Gempa dasyat guncang Turki, 6 tewas dan puluhan bangunan runtuh



KONTAN.CO.ID -  ISTANBUL. Enam orang tewas di Turki setelah gempa dasyat melanda Laut Aegea pada hari Jumat (30/10), menyebabkan bangunan-bangunan runtuh dan memicu gelombang pasang yang menghantam daerah pesisir dan pulau-pulau Yunani di dekatnya.

Orang-orang berlari ke jalan-jalan dengan panik di kota pesisir Izmir, kata saksi mata, setelah gempa melanda dengan kekuatan hingga 7,0 pada sekitar 1150 GMT.

Beberapa lingkungan dibanjiri oleh gelombang air laut yang menyapu banjir puing-puing ke pedalaman dan menyebabkan ikan terdampar saat surut.


The Disaster and Emergency Management Presidency (AFAD) mengatakan enam orang tewas, satu karena tenggelam, sedangkan 202 orang luka-luka.

Baca Juga: Ledakan dahsyat guncang Beirut, 50 tewas 2.750 terluka

Ada berbagai laporan tentang bangunan yang runtuh dengan orang-orang terjebak di reruntuhan di beberapa distrik Izmir, salah satu daerah wisata utama Turki, dan kerusakan sebagian pada properti di provinsi lain, kata pejabat Turki.

Walikota Izmir Tunc Soyer mengatakan sekitar 20 bangunan runtuh di provinsi itu. Gubernur Izmir mengatakan 70 orang telah diselamatkan dari bawah reruntuhan.

Ilke Cide, seorang mahasiswa doktoral yang berada di wilayah Guzelbahce Izmir selama gempa, mengatakan dia pergi ke pedalaman setelah air naik setelah gempa.

"Saya sangat terbiasa dengan gempa bumi ... jadi saya tidak menganggapnya serius pada awalnya, tetapi kali ini sangat menakutkan," katanya, seraya menambahkan gempa tersebut telah berlangsung setidaknya selama 25-30 detik seperti dilansir Reuters.

PM Yunani Mitsotakis menelepon Presiden Turki, menyampaikan belasungkawa atas gempa tersebut.

Baca Juga: Gempa bumi dasyat di Turki menewaskan 20 orang

Disilangkan oleh garis patahan utama, Turki merupakan salah satu negara paling rawan gempa di dunia. Lebih dari 17.000 orang tewas pada Agustus 1999 ketika gempa berkekuatan 7,6 melanda Izmit, sebuah kota di tenggara Istanbul. Pada 2011, gempa di timur kota Van menewaskan lebih dari 500 orang.

Editor: Noverius Laoli