Hadapi tekanan harga dan corona, perusahaan migas ramai-ramai revisi rencana kerja



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun 2020 bakal menjadi tahun yang terjal bagi perusahaan minyak dan gas (migas). Tak hanya harga minyak dunia yang anjlok hingga ke bawah level US$ 30 per barel, efek gulir dari pandemi virus corona juga memperumit kondisi bisnis migas di tahun ini.

Perusahaan migas ramai-ramai melakukan langkah mitigasi, khususnya dalam hal penyesuaian target atau rencana kerja di tahun ini. Ada yang sudah melakukan revisi, ada juga yang masih mengkaji sejumlah opsi. Hal ini dilakukan bukan hanya oleh perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang memproduksi migas siap jual alias lifting, melainkan juga oleh emiten jasa penunjang migas.

PT Pertamina EP, misalnya telah menyiapkan skenario untuk menyesuaikan target dan rencana kerja perusahaan di tahun ini. Anak usaha PT Pertamina (Persero) di sektor hulu itu utamanya menyesuaikan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang menjadi acuan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2020.


Baca Juga: Fluktuasi harga minyak, ini skenario perubahan target dan rencana kerja Pertamina EP

Direktur Utama Pertamina EP Nanang Abdul Manaf mengungkapkan, perubahan asumsi ICP tersebut bakal berpengaruh terhadap anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) dan operational expenditure (opex), termasuk juga pada proyeksi pendapatan dan laba perusahaan di tahun ini.

"Yang utamanya ICP, kami buat beberapa skenario. Maka harus ada adjustment terhadap besaran capex dan opex supaya masih bisa memberikan profit," terang Nanang kepada Kontan.co.id, Minggu (12/4).

Dia menjelaskan, skenario penyesuaian tersebut tidak hanya terjadi dari sisi keuangan saja, melainkan akan mengubah rencana operasional atau produksi migas Pertamina EP. "Kalau capex dan opex kami potong, jumlah program kerja terkait produksi juga berpengaruh. Sumur yang dibor dan workover turun, target produksi juga turun," kata Nanang.

Baca Juga: Lifting minyak akan turun hingga 5%, PNBP makin tergelincir

Namun, Nanang menyebut pihaknya masih belum secara resmi mengajukannya ke Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Skenario perubahan rencana kerja ini bisa jadi baru akan diajukan pada pertengahan tahun dan mulai diterapkan pada semester II mendatang. Menurut dia, Pertamina EP akan terlebih dulu mencermati pergerakan harga minyak pada satu atau dua bulan ke depan.

Sebelumnya, induk migas pelat merah, PT Pertamina (Persero) dikabarkan tengah melakukan antisipasi terhadap dampak corona dengan menerapkan business continuity plan. Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, Pertamina tengah meninjau kembali target keuangan dan rencana kerja untuk menjalankan apa yang paling prioritas.

Hal itu dilakukan sembari mencermati kondisi aktual terkait penanganan corona dan efek gulir yang ditimbulkannya. "Masih dalam review. Sampai saat ini, kami terus berupaya menjalankan rencana kerja dengan mengambil langkah antisipasi menerapkan business continuity plan. Sambil terus melakukan evaluasi mendalam untuk prioritas rencana kerja, biaya operasi dan investasi," ujar Fajriyah.

Baca Juga: Ikut agenda G20, Menteri ESDM sampaikan komitmen Indonesia pulihkan sektor energi

Berbeda dengan Pertamina, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) telah lebih dulu melakukan revisi target dan rencana kerja. Vice President Planning and Investor Relations MEDC Myrta Sri Utami mengungkapkan, di tengah tren harga minyak yang masih rendah, Medco Energi melakukan revisi target operasional produksi dan capex.

Editor: Wahyu T.Rahmawati