Harga batubara lesu, kinerja Indo Tambangraya (ITMG) berpotensi turun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) diprediksi akan kembali tertekan pada tahun ini. Harga komoditas energi batubara yang ikut turun akibat pandemi virus corona menjadi salah satu penyebabnya.

Berdasarkan pasar spot, harga batubara dengan kontrak pengiriman Oktober 2020 saat ini berada di posisi US$ 58,85 per ton, turun 1,18% ketimbang hari sebelumnya dan menjadi posisi terendahnya.

Analis NH Korindo Sekuritas Meilki Darmawan memprediksi kinerja emiten yang memiliki kode saham ITMG ini masih akan tertekan pada 2020. Pasalnya, aktivitas impor negara-negara importir batubara relatif berkurang akibat dampak wabah virus corona. 


Baca Juga: 11 emiten batubara ini mengalami penurunan laba bersih di 2019, siapa paling dalam?

Meilki melihat berkurangnya aktivitas impor tersebut akan bertahan hingga kuartal III tahun 2020.

Padahal dari sisi fundamental, menurut Meilki ITMG memiliki fundamental yang cukup kuat. Apalagi level leverage ITMG yang relatif kecil dengan Debt Equity Ratio (DER) sebesar 36,4%. Dibanding emiten batubara yang lain, kondisi fundamental ITMG tidak terlalu mengkhawatirkan meski dihadapkan oleh penyebaran virus corona.

“Hanya saja, tantangan ITMG adalah harga jual batubara yang terus menurun sehingga memberatkan operasional perusahaan,” kata Meilki.

Senada, Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony mengatakan kinerja emiten ITMG kemungkinan akan mengalami penurunan di tahun ini. Sebab, konsumsi batubara secara global belum naik signifikan. Terlebih, efek dari penyebaran virus corona yang membuat sejumlah negara memberlakukan lockdown.

Kebijakan lockdown yang sempat diberlakukan oleh China sebagai negara tujuan ekspor batubara ITMG terbanyak, akan berdampak pada menurunnya pendapatan tahun ini. Dari total 23,4 juta ton yang diproduksi pada 2019, ITMG menjual batubara ke China sebanyak 7,3 juta ton.

“Karena konsumsi China berkurang tentu akan mengakibatkan penurunan pendapatan,” kata Chris.

Sementara, Meilki memprediksi pendapatan ITMG akan turun 6,2% menjadi US$ 1,6 miliar akibat lockdown yang telah berlaku. Meilki mencatat sekitar 25% ekspor ITMG menyasar ke China, Hong Kong, dan Korea Selatan.

Dengan begitu, kinerja ITMG yang terbilang kurang memuaskan pada tahun sebelumnya berpotensi untuk kembali berlanjut di tahun 2020. Sebagai informasi, pada 2019 ITMG membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 1,71 triliun atau turun 14,5% secara year on year.

Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tercatat mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 261,9 miliar menjadi Rp 129,4 miliar pada tahun 2019. Penurunan laba tersebut disebabkan turunnya Average Selling Price (ASP) sebesar 20,3% secara year on year di US$ 64,7 per ton.

Analis PT Sinarmas Sekuritas Richard Suherman dalam risetnya per 6 Maret 2020 menyebutkan pendapatan bersih ITMG telah melebihi ekspektasi yakni 104%. Sedangkan laba tahun berjalannya berada di bawah perkiraannya 97%. Meski begitu, realisasi penjualan batubara tahun 2019 mengalami peningkatan dengan mencapai 25,3 juta ton. Tahun sebelumnya, ITMG hanya dapat mencapai 23,5 juta ton.

Editor: Herlina Kartika Dewi