KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga batubara global membuka peluang bagi emiten produsen batubara untuk mencatatkan kinerja positif hingga akhir 2026. Namun, prospek harga komoditas yang tidak sepenuhnya bullish membuat pilihan saham menjadi selektif. Berdasarkan data Trading Economics per Senin (14/9), harga batubara dunia mencapai US$ 146,75 per ton, naik 13,32% dalam sebulan dan 36,51% sejak awal tahun.
Tren ini ikut menopang harga jual rata-rata atau
average selling price (ASP) sejumlah emiten batubara.
Baca Juga: Harga Tembaga Menguat, Cermati Rekomendasi Saham dan Prospek Emiten Tembaga Salah satunya PT Indo Tambangraya Megah Tbk (
ITMG) yang membukukan pendapatan US$ 1 miliar pada semester I-2026, tumbuh 9% secara tahunan. ASP naik 4% menjadi US$ 81 per ton, sehingga laba bersih ITMG meningkat 16% menjadi US$ 106 juta. PT Bukit Asam Tbk (
PTBA) juga mencatat perbaikan kinerja. Pendapatan semester I-2026 tumbuh 7,73% menjadi Rp 22,03 triliun, sedangkan laba bersih melonjak 218,10% menjadi Rp 2,65 triliun. Selain harga batubara, pelemahan rupiah dan perbaikan biaya turut menopang profitabilitas perseroan. Direktur Indo Tambangraya Megah Warut Waramit mengatakan permintaan batubara termal masih berpotensi tumbuh, terutama untuk kebutuhan pembangkit listrik. Namun, pergerakan harga tetap bergantung pada keseimbangan pasokan dan permintaan global serta kondisi pasar energi.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Konsolidasi Kamis (10/9), Simak Rekomendasi Saham TOWR, PTBA dan ANTM Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan harga batubara berada di US$ 133 per ton pada 2026 dan US$ 131 per ton pada 2027, sebelum turun ke sekitar US$ 125 per ton pada 2028.
Karena itu, disiplin biaya menjadi faktor penting untuk menjaga kinerja emiten ketika harga mulai terkoreksi. Di tengah prospek tersebut, CGS Sekuritas memilih PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (
AADI) sebagai pilihan trading utama. AADI mendapat rekomendasi add dengan target harga Rp 12.700 per saham.