Harga batubara naik dan rencana pajak karbon, cek rekomendasi saham emiten batubara



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga batubara masih terus membara. Merujuk data Bloomberg, harga batubara ICE Newcastle untuk kontrak September 2021 telah berada di level US$ 107 per ton pada perdagangan Jumat (28/5). Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu memproyeksikan, rata-rata harga batubara pada akhir semester I-2021 akan berada di kisaran US$ 92-US$ 95 per ton. Menurutnya, jika harga tersebut bisa bertahan, atau malah masih menguat, tentu akan mendorong kinerja emiten batubara pada kuartal II-2021.

Sementara itu, analis Phillip Sekuritas Indonesia Michael Filbery memperkirakan, harga acuan batubara pada tahun ini akan berada di level US$ 75,0 per ton. Menurutnya, salah satu sentimen datang dari larangan China atas impor batubara asal Australia. Kebijakan tersebut membuat ketersediaan batubara berkalori menengah berkurang. Hal ini pada akhirnya bisa menjadi katalis positif bagi pasar batubara Indonesia


Tak hanya itu, ia juga melihat, pertumbuhan ekonomi Kawasan Asia tahun ini yang didukung dengan masifnya program vaksinasi diperkirakan bakal mendongkrak permintaan sumber energi, salah satunya batubara.

Baca Juga: Private placement, Bumi Resources (BUMI) akan terbitkan 103,07 miliar saham baru

Michael menyebut, tahun ini China juga diprediksi masih akan mengalami ketatnya pasokan batubara yang bisa tercermin dari laporan China Electricity Council (CEC), bahwa konsumsi listrik China pada tahun ini diperkirakan naik 7%-8% dibanding tahun lalu.

Lebih lanjut, sentimen positif lainnya bagi sektor batubara adalah keputusan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mengerek naik target produksi batubara pada tahun ini menjadi 625 juta ton, dari sebelumnya 550 juta ton.

“Selisih kenaikan 75 juta ton digunakan untuk pasar ekspor. Kebijakan pemerintah tersebut sudah tepat seiring dengan pemulihan ekonomi di pasar eskpor batubara Indonesia, yang akan meningkatkan permintaan batubara,” terang Michael kepada Kontan.co.id, Sabtu (29/5)

Senada, analis MNC Sekuritas Catherina Vincentia mengatakan, tingginya harga batubara belakangan ini tidak terlepas dari meningkatnya permintaan seiring dengan dibukanya kembalinya aktivitas ekonomi. Walau sektor batubara diuntungkan dengan kondisi tersebut, ia menyebut sektor ini sebenarnya dibayang dua sentimen yang berpotensi menjadi pemberat bagi supplier domestik batubara.

Pertama, sentimen soal pajak karbon yang dalam jangka menengah bisa mengerem industri akan kebutuhan bahan bakar batubara. Kedua, pemerintah yang berencana tidak akan menambah lagi pembangkit listrik dengan bahan bakar batubara dalam rangka mengurangi emisi karbon.

“Permintaan batubara dari negara barat kan sudah menurun karena mereka sudah beralih ke energi terbarukan. Jadi, dua sentimen tersebut akan berpotensi mengurangi permintaan dari dalam negeri dan menjadi pemberat bagi supplier batubara domestik,” kata Catherina.

Tapi, Catherina secara khusus menilai hingga 2020, energy mix dari Indonesia masih didominasi oleh bahan bakar fosil dan batubara. Oleh karena itu, walaupun pemerintah ingin menuju ke green energy, prosesnya tidak akan berubah secara drastis dan masih akan diimplementasikan secara bertahap.

Baca Juga: Ini rekomendasi saham-saham berbasis komoditas di tengah kenaikan harga komoditas

Editor: Khomarul Hidayat