Harga BBM Pertamax Sudah Turun, Bagaimana dengan Pertalite?



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga,  Irto Ginting mengatakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite telah berada di bawah keekonomian kendati harga minyak dunia telah turun. Karena itu pemerintah masih memberikan subsidi pada BBM Pertalite.

“Harga pertalite saat ini masih di bawah harga keekonomian. Masih ada subsidi dari Pemerintah,” ujarnya kepada Kontan.co.id, tanpa menyebut angka harga keekonomian yang dimaksud (3/10).

Seperti diketahui saat ini harga Pertalite Rp 10.000 per liter. Sementara itu, update terbaru harga BBM per 1 Oktober 2022, pemerintah menurunkan harga terhadap dua jenis bahan bakar umum (JBU) atau BBM non subsidi yakni Pertamax dan Pertamax Turbo.


Baca Juga: Inflasi Bulan September 2022 Diprediksi 1,15% Tersundut Kenaikan Harga BBM

Harga Pertamax yang semula berkisar Rp 14.500 per liter - Rp 15.200 per liter (tergantung provinsi) turun menjadi Rp 13.900 per liter - Rp 14.500 per liter. Sedang harga Pertamax Turbo yang semula berkisar Rp 15.900 per liter - Rp 16.600 per liter menyusut jadi Rp 14.950 per liter - Rp 15.550 per liter.

Sejauhi ni pemerintah belum mengeluarkan kebijakan harga terbaru lagi untuk Pertalite. Irto sendiri mengaku tidak tahu menahu soal proyeksi harga Pertalite ke depan. “Kewenangan menentukan harga untuk BBM subsidi ada di Pemerintah,” tutur Irto.

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan, harga keekonomian Pertalite berada di kisaran angka Rp 13.000-an per liter jika mengacu kepada pergerakan publikasi harga minyak Mean of Platts Singapore (MOPS) selama 3 bulan terakhir yang berada di angka US$ 100 per barel.

“Jadi pemerintah masih memberikan kompensasi sebesar Rp 3000-an per liternya,” ujar Mamit kepada Kontan.co.id (3/10).

Baca Juga: Harga BBM Naik, Inflasi Bulan September 2022 Diprediksi Sebesar 1,15%

Dengan kondisi yang ada, Mamit memperkirakan bahwa harga Pertalite berat untuk mengalami penurunan. 

Di sisi lain, ia menilai bahwa harga Pertalite sebaiknya dipertahankan, sebab opsi menurunkan harga Pertalite menurutnya hanya akan meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sementara harga barang dan jasa belum tentu mengekor ikut turun.

“Masih ada kompensasi yang harus dibayarkan pemerintah. Jika diturunkan beban apbn akan meningkat kembali. Apalagi tidak ada jaminan harga turun diikuti dengan yang lain,” ujarnya.

Editor: Noverius Laoli