Harga CPO mulai bangkit, berikut rekomendasi analis untuk London Sumatra (LSIP)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring membaiknya harga crude palm oil (CPO), analis memproyeksikan kinerja keuangan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga bisa membaik.

Sebelumnya, hingga kuartal III-2019, kinerja keuangan LSIP masih menurun karena tertekan penurunan harga CPO sejak semester I. Mengutip laporan keuangan di periode tersebut pendapatan LSIP merosot 10% secara tahunan menjadi Rp 2,6 triliun. Sementara, laba bersih London Sumatra anjlok 84,8% secara tahunan menjadi Rp 53 miliar.   

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andy Wibowo Gunawan, mengatakan, kinerja LSIP menurun karena beban pokok penjualan hingga September meningkat 0,41% secara tahunan dan rata-rata harga jual di kuartal III-2019 menurun dari Rp 6.436 per kilogram menjadi 6.567 per kilogram di kuartal II 2019.


Baca Juga: Simak rekomendasi saham PTPP, BBNI, dan LSIP untuk hari ini

Senada, Analis Danareksa, Andreas Kenny, mengatakan, faktor utama yang membuat kinerja LSIP menurun tidak lain tidak bukan adalah penurunan harga CPO sejak awal tahun hingga kuartal III-2019 anjlok.

Namun, memasuki kuartal IV-2019 harga CPO mulai membaik. Senin (16/12), harga CPO bertengger di RM 2.873 per ton. Andreas optimistis mulai kuartal IV-2019 hingga di 2020 kinerja LSIP bisa membaik. Proyeksi Andreas, rata-rata harga CPO di tahun ini RM 2.100 per ton dan RM 2.400 per ton untuk tahun depan.

"Harga CPO naik bisa meningkatkan bottom line, meski memang produksi di tahun ini diproyeksikan masih turun satu digit," kata Andreas, Senin (16/12).

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, kinerja LSIP memang tergantung dari harga CPO global. Ke depan, Hans memproyeksikan harga CPO memasuki tren naik karena Malaysia dan Indonesia sebagai negara produsen CPO terbesar kompak mengurangi ekspor karena fokus memenuhi kebutuhan CPO guna menjalankan kebijakan B20 dan B30.

Baca Juga: Analis: Saham-saham grup Indofood punya prospek tahun 2020

Selain itu, harga CPO juga bisa terkerek permintaan dari India sebagai negara konsumen terbesar CPO.

Editor: Noverius Laoli