KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (
CPIN) membukukan kinerja positif pada kuartal I – 2026. Harga livebird diproyeksi menjadi salah satu katalis pendorong kinerja CPIN ke depan. CPIN mencatat pendapatan sebesar Rp 19,95 triliun, naik 12,69% secara
year on year (yoy) pada kuartal I – 2026. Laba bersih CPIN juga melonjak 62,72% yoy menjadi Rp 2,57 triliun. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan laba bersih pada kuartal I – 2026 tersebut membentuk 41% estimasi tahun 2026 BRI Danareksa Sekuritas yang jauh di atas ekspektasi.
Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Baramulti (BSSR) di Tengah Harga Batubara yang Stabil Net cash position pertama sejak 2012 menjadi sinyal kekuatan neraca yang membuka ruang ekspansi dan dividen lebih besar ke depan. Sebab itu, prospek kinerja CPIN hingga kuartal III – 2026 diperkirakan mencapai momentum solid meski ada normalisasi pasca Lebaran. “Kinerja positif CPIN pada kuartal I diperkirakan berlanjut pada kuartal II dan kuartal III, namun lebih moderat,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (22/6/2026). Abida melihat katalis positif yang mendukung proyeksi tersebut antara lain harga
livebird yang
favorable, pemulihan
processed food dengan margin 15,6%, dan fleksibilitas keuangan dari posisi
net cash. Namun Risiko yang perlu dicermati di antaranya normalisasi margin pasca Lebaran, harga jagung dan soybean meal (SBM) atau bungkil kedelai yang masih tinggi, serta buffer inventori kuartal IV – 2025 yang sudah habis terpakai di kuartal I – 2026 sehingga tidak tersedia di kuartal II – 2026.
Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Golden Energy (GEMS) yang Kinerja Turun di Kuartal I-2026 Abdusshomad Cakra Buana, Analis Bahana Sekuritas menilai CPIN berada pada posisi yang relatif baik terhadap depresiasi rupiah meskipun memiliki eksposur bahan baku yang terkait dengan dolar Amerika Serikat (AS). Khususnya bungkil kedelai yang menyumbang sekitar 25% dari biaya pakan. Meski rupiah telah terdepresiasi sekitar 5% secara year to date (ytd) per 15 Mei 2026 dengan tanda-tanda terbatas untuk kembali ke kisaran Rp 16.000 – Rp 16.500 per dolar AS, risiko nilai tukar CPIN dapat diredam oleh neraca keuangannya yang terjaga.
Hal ini didukung oleh posisi kas bersih USD sebesar Rp 182 miliar pada kuartal I – 2026. “Sehingga relatif kurang terekspos dibandingkan dengan perusahaan sejenis seperti JPFA yang masih memiliki posisi utang bersih USD sebesar Rp 3,6 triliun,” ujar Abdusshomad dalam risetnya pada 15 Mei 2026. Namun demikian Abdusshomad menyoroti impor bungkil kedelai terpusat melalui PT Berdikari (ID Food) mulai terwujud di seluruh industri sejak April 2026. Meski CPIN belum memberikan panduan resmi, manajemen menyoroti dua kemungkinan skema. Yakni mengimpor langsung melalui Berdikari atau pengadaan secara independen sambil membayar biaya kepada Berdikari.