Hubungan AS & China kembali memanas, bagaimana prospek harga emas akhir tahun?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berpalingnya investor ke safe heaven khususnya emas saat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas tidak juga menjamin bahwa sampai akhir tahun harga emas akan tetap naik. Perubahan harga komoditas emas ini sangat tergantung perkembangan hubungan perdagangan ekonomi AS dan China. 

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, secara keseluruhan pergerakan harga komoditas termasuk logam mulia masih dalam trend konsolidasi. Bahkan, pergerakan harga cenderung berpotensi stagnan, di mana dollar AS juga dinilai tidak terlalu kuat.

Baca Juga: Pemerintah kejar pertumbuhan investasi langsung, Ekonom: Kualitas juga penting


Hal ini tercermin dari pergerakan harga komoditas platinum yang tercatat masih koreksi di tengah penguatan rekan-rekan komoditas logam mulia lainnya. Namun, Wahyu menilai momentum penurunan ini bisa jadi peluang bagi pasar untuk membeli platinum saat menyentuh harga terendah.

"Harga platinum secara cepat akan mengikuti tren pergerakan paladium yang dinilai bakal jadi primadona ke depannya," jelas Wahyu kepada Kontan, Kamis (28/11).

Untuk itu, wahyu merekomendasikan buy on weakness untuk platinum. Prediksinya, ke depan harga berpeluang besar untuk mengalami rebound dengan perkiraan harga hingga akhir tahun US$ 900 per ons troi.

Direktur Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, hijaunya harga komoditas logam mulia hanya bersifat sementara. Ini karena ketidakpastian sentimen perang dagang masih bisa terjadi kapan saja, khususnya terkait keputusan Trump.

"Logam mulia menghijau karena Trump masih plin plan terhadap keputusannya yang menyebabkan kesepakatan dagang fase pertama bakal molor. Alhasil safe haven menghijau," jelas Ibrahim kepada Kontan, Kamis (28/11).

Baca Juga: Keraguan Muncul Lagi, Harga Emas Hari Ini Mendaki Kembali

Sementara itu, Ibrahim masih optimistis prospek harga paladium cukup baik ke depan. Ini karena, peranan paladium yang juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan mobil listrik.

"Banyak negara saat ini mulai mengembangkan dan beralih ke mobil listrik, ini bisa jadi prospek manis untuk paladium ke depan," jelas Ibrahim.

Editor: Noverius Laoli