IHSG anjlok 15,21% sejak awal tahun, baca lagi nasihat Eyang Ratman



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki fase bearish. Sejak awal tahun 2020, IHSG sudah anjlok 15,21% sampai Kamis (27/2). Penurunan IHSG menyeret perusahaan-perusahaan besar dan bagus ke zona merah.

Nah, menurut salah satu investor kawakan Indonesia, Soeratman Doearchman alias Eyang Ratman, mengatakan, penurunan IHSG merupakan kesempatan bagi investor untuk masuk pasar.

Melalui wawancara singkat dengan Kontan, Eyang Ratman mengatakan di tengah situasi pasar yang tengah tertekan saat ini,  justru kesempatan yang bagus untuk mencari saham-saham dengan fundamental yang bagus dan bervaluasi murah. 


Baca Juga: IHSG anjlok 2,63%, BEI: penurunan belum mencapai batas toleransi

Saat ini IHSG juga tertekan karena ada sentimen dari dalam negeri dan luar negeri. Saran Eyang untuk investor di tengah situasi ini?

Saya kira justru ini merupakan suatu kesempatan besar bagi investor terutama ya. Karena sebetulnya, kalau kita melihat quote Warren Buffet misalnya justru pada saat seperti sekarang ini, market sedang jatuh, disarankan untuk mencari istilahnya mutiara dalam lumpur.

Artinya lumpur itu kan IHSG lagi tertekan, nah mutiaranya cari perusahaan bagus. Karena kalau perusahan bagus itu, meskipun keadan IHSG tertekan, yang tertekan kan harga sahamnya tapi kinerja fundamentalnya dia tidak tertekan.

Baca Juga: Saham Telkom (TLKM) dinilai merana karena terpapar buruknya kinerja bursa

Kriterianya seperti apa sih ?

Kriterianya adalah lihat laporan keuangan yang tersedia di seluruh sekuritas, bursa juga selalu menyediakan laporan keuangan. Termasuk juga situs-situs seperti Bloomberg, Reuters maupun Financial Times itu menyiapkan laporan keuangan saham-saham di Indonesia.

Yang dilihat adalah rasio-rasio keuanganya yang menyatakan perusahaan itu bagus. Itu bisa dilihat dengan misalnya kinerja keuntungan selalu meningkat, aset selalu berkembang, lalu disukai oleh investor. Dan itu bisa dilihat dengan secara perkiraan juga bisa diperkirakan bahwa dia akan terus berkembang.

Baca Juga: Masih betah di zona merah, IHSG bertahan di 5.543,667 pada perdagangan Kamis (27/2)

Tandanya tekanan pasar ini bersifat sementara?

Coba lihat grafik dari 2000-2020, lihat saja bahwa grafiknya naik turun. Tahun 2008 malah jatuh sampai hampir 50% lalu naik lagi ratusan persen. Justru yang beli tahun 2008, sekarang itu turun baru sekitar 8,13% itu bukan apa-apa. Dia sudah dapat ratusan persen. Coba lihat grafiknya.

Editor: Noverius Laoli