IHSG fluktuatif, reksadana Simas Saham Unggulan cetak kinerja 42% yoy



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berbagai sentimen negatif tak kunjung berhenti menggempur Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Lantas, kinerja sejumlah saham pun berguguran dan turut menyeret kinerja reksadana saham.

Di tengah gejolak pasar saham, reksadana besutan Sinarmas Asset Management menoreh kinerja cemerlang. Menurut data Infovesta Utama, per 20 Agustus, reksadana bertajuk Simas Saham Unggulan ini mencatat kinerja 42,41% secara year-on-year (yoy).

Sementara, kinerja rata-rata reksadana saham yang tecermin dalam Infovesta Equity Fund Index masih tercatat -1,47% yoy.


Head of Investment Sinarmas Asset Management, Christian Halim, tak menampik gejolak pasar yang terjadi belakangan ini.

"Pelaku pasar sering bertindak irasional sehingga menimbulkan gejolak harga sekaligus menciptakan peluang investasi. Namun, kalau kami bertindak cukup rasional dan dapat mengambil peluang tersebut, kami dapat membukukan kinerja di atas rata-rata," ujar Christian kepada Kontan beberapa waktu lalu.

Per 31 Juli lalu, Sinarmas AM mengalokasikan asetnya 99,58% pada ekuitas dan 0,42% pada deposito maupun giro. Untuk mengambil peluang, Christian mengungkapkan Sinarmas AM fokus pada saham-saham dengan prospek pertumbuhan di atas rata-rata sektor dan dengan harga yang undervalue.

Saham berkapitalisasi besar (big caps) dan sedang (medium caps) menjadi preferensi utamanya. "Saham big caps cenderung lebih stabil karena industrinya sudah masuk tahap mature, sedangkan medium caps dapat memberikan return yang lebih tinggi namun memiliki tingkat risiko yang besar juga terutama risiko likuiditas," kata Christian.

Dalam pemilihan sektor, Christian mengaku Sinarmas AM menaruh perhatian pada sektor perdagangan, keuangan, industri dasar, pertambangan, dan properti. Dari sektor keuangan, Simas Saham Unggulan mengoleksi saham BBRI dan BBTN, sementara dari sektor pertambangan ada saham ADRO.

Namun, Christian bilang, sektor industri dasar tengah menjadi andalannya saat ini. Menurutnya, industri kertas dan bubur kertas sedang mengalami lonjakan permintaan sejak pemerintah China melarang impor kertas bekas untuk menyukseskan program perbaikan lingkungan hidup di sana.

Alhasil harga bubur kertas naik 60% sejak 2017. "Selain itu tren penggunaan e-commerce sebagai sarana berbelanja di dalam negeri turut menambah permintaan karton dan kertas pembungkus," papar Christian.

Tak heran, reksadana ini juga mengoleksi saham TKIM dan INKP yang mengalami kenaikan harga saham pesat sejak awal tahun ini.

Untuk mengoptimalisasi pemilihan saham, Sinarmas AM menggunakan gabungan metode top-down maupun bottom-up.

Menurut Christian, metode top down digunakan untuk mengetahui tren pasar berdasarkan data makroekonomi, sedangkan metode bottom-up digunakan untuk meningkatkan kinerja.

Editor: Yudho Winarto