Ilmuwan: Virus corona lebih cepat mati di bawah sinar matahari dan kelembaban



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Menurut penelitian baru yang diumumkan oleh seorang pejabat senior AS pada hari Kamis, virus corona bisa dengan cepat dihancurkan oleh sinar matahari, meskipun penelitian tersebut belum dipublikasikan dan tengah menunggu evaluasi eksternal.

William Bryan, penasihat sains dan teknologi untuk sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih, para ilmuwan pemerintah telah menemukan bahwa sinar ultraviolet memiliki dampak kuat pada patogen, menawarkan harapan bahwa penyebarannya dapat mereda selama musim panas.

"Pengamatan kami yang paling mencolok hingga saat ini adalah efek kuat yang dimiliki cahaya matahari untuk membunuh virus, baik permukaan maupun di udara," katanya.


Baca Juga: Riset China: Virus, corona telah bermutasi menjadi 30 jenis berbeda

Dia menambahkan, "Kami telah melihat efek yang serupa dengan suhu dan kelembaban juga, di mana peningkatan suhu dan kelembaban atau keduanya umumnya kurang menguntungkan terhadap virus."

Tetapi makalah itu sendiri belum dirilis untuk ditinjau, sehingga sulit bagi para ahli independen untuk berkomentar tentang seberapa kuat metodologinya.

Melansir South China Morning Post, Presiden AS Donald Trump mengatakan, temuan itu harus ditafsirkan dengan hati-hati, tetapi juga mengklaim pembenaran karena hasil sebelumnya menunjukkan bahwa virus corona mungkin surut di musim panas.

Baca Juga: Jerman beri lampu hijau uji coba vaksin corona ke manusia buatan BioNTech

“Saya pernah mengatakan bahwa mungkin virus itu akan mati dengan panas dan cahaya. Dan orang-orang tidak terlalu menyukai pernyataan itu," katanya.

Para peneliti juga menemukan bahwa isopropil alkohol adalah desinfektan yang lebih efektif daripada pemutih, kata Bryan.

Trump mengatakan para peneliti harus mencoba menerapkan temuan mereka pada pasien virus corona dengan memasukkan cahaya atau desinfektan ke dalam tubuh mereka.

Baca Juga: Gawat, ilmuwan temukan mutasi virus corona yang lebih mematikan

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie