Indonesia Diproyeksikan Jadi Negara Pencetak Orang Super Kaya Tercepat di Dunia



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Indonesia diperkirakan menjadi negara dengan pertumbuhan jumlah orang super kaya atau ultra-high-net-worth individuals (UHNWI) tercepat di dunia dalam lima tahun ke depan.

Namun, di balik lonjakan kekayaan tersebut, para ekonom mengingatkan adanya risiko pelebaran ketimpangan ekonomi akibat terus menyusutnya kelas menengah.

Berdasarkan The Wealth Report 2026 yang diterbitkan Knight Frank, jumlah individu dengan kekayaan bersih di atas US$ 30 juta di Indonesia diproyeksikan melonjak 81,7% menjadi 6.966 orang pada 2031, dari 3.833 orang pada 2026.


Baca Juga: Orang Super Kaya Melejit, Tapi Kelas Menengah Indonesia Kian Menyusut

Dengan laju pertumbuhan tersebut, Indonesia menempati peringkat pertama dunia, mengungguli Arab Saudi.

Laporan yang sama juga memperkirakan jumlah miliarder di Indonesia akan meningkat dari 33 orang menjadi 49 orang hingga 2031 atau tumbuh sekitar 49%.

Knight Frank menilai pusat pertumbuhan kekayaan global mulai bergeser ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai proyeksi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi kelas menengah yang terus menyusut.

Data menunjukkan jumlah kelas menengah turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Jika dibandingkan dengan 2016, jumlahnya telah berkurang sekitar 5,6 juta orang.

Menurut Yusuf, pertumbuhan kelompok super kaya lebih banyak ditopang kenaikan nilai aset seperti saham, properti, dan bisnis.

Baca Juga: Jumlah Orang Super Kaya Melonjak, Ekonom Ingatkan Ancaman bagi Kelas Menengah

Sementara itu, upah riil masyarakat justru mengalami penurunan rata-rata 1,1% per tahun sepanjang 2018–2024.

Kondisi ini membuat pertumbuhan kekayaan lebih banyak dinikmati pemilik modal dibandingkan pekerja, sehingga kesenjangan ekonomi berpotensi semakin melebar.

Ia juga menyoroti membengkaknya kelompok aspiring middle class yang mencapai sekitar 142 juta orang pada 2025.

Di saat yang sama, daya tahan konsumsi rumah tangga dinilai mulai melemah dan semakin bergantung pada utang.