Indonesia krisis tenaga kerja profesional



Tahun 2016 bukanlah tahun yang menyenangkan bagi sektor jasa keuangan di tanah air. Di sektor perbankan, misalnya, kredit tidak tumbuh tinggi. Merujuk data di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sepanjang tahun hingga November 2016 atau year to date (YTD), kredit di bank umum hanya tumbuh kepada pihak ketiga hanya tumbuh 5,59%.

Kendati tidak jor-joran, kredit bermasalah, toh meningkat pesat.  Per November 2016, tingkat kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto di bank umum cukup tinggi, yakni 3,18%. 

Dengan kondisi bisnis perbankan yang kurang baik di sepanjang tahun lalu, tak heran jika perbankan mengerem penambahan tenaga kerjanya di tahun ini, terutama untuk level menengah hingga direksi. 


Secara umum, Michael Page, sebuah perusahaan perekrutan tenaga kerja eksekutif yang berpusat di Inggris, menyimpulkan, aktivitas perekrutan tenaga kerja di sektor perbankan sepanjang tahun ini akan cenderung stagnan. 

Namun, secara lebih mendetail, Robert Walters, perusahaan internasional yang juga bergerak di bidang head hunting, melihat, tidak semua posisi di perbankan akan sepi permintaan. Tahun ini, permintaan untuk posisi front office di perbankan, seperti customer relationship manager, akan cenderung sepi.

“Namun, aktivitas perekrutan untuk middle office dan back office masih akan sangat sibuk,” ujar Glorya Tay, Manager Financial Services & Legal Robert Walters Indonesia, kepada KONTAN, Rabu lalu (8/2).

Posisi middle office dan back office yang dimaksud, antara lain meliputi posisi compliance, risk management, dan audit. Selain itu, terkait dengan tingkat risiko yang meningkat dan regulasi dari OJK untuk mengetahui latar belakang klien, banyak pula permintaan profesional untuk mengisi posisi di departemen know your customer (KYC). 

Kekurangan pasokan hingga 60%

Sayang, permintaan yang tinggi tersebut tidak didukung oleh ketersediaan talent atau profesional yang memenuhi kualifikasi yang diminta perusahaan. “Ada volume kandidat yang sangat tinggi, tapi bukan berarti juga ada volume kualitas yang tinggi,” tutur Olly Riches, President Director Michael Page International Indonesia, kepada KONTAN, Kamis (9/2).

Editor: Asih Kirana