Indonesia sudah resesi sejak kuartal I 2020



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ada banyak orang yang panik melihat Indonesia masuk dalam resesi. Tapi akan menjadi seperti apa sebenarnya kondisi perekonomian kita di tahun 2020 ini? Apakah pertumbuhan ekonomi akan bisa segera pulih di awal tahun 2021?

Berikut ini wawancara khusus KONTAN denagan Adrian Panggabean Chief Economist Bank CIMB Niaga Tbk tentang kondisi ekonomi makro terakhir, pandemik covid-19 omnibus law cipta kerja, perekonomian global dan pengaruhnya terhadap perkonomian Indonesia.

Bagaimana Anda melihat perkembangan ekonomi di Indonesia setelah di kuartal 3 ini?


Di kuartal ke-3 kalau melihat dari data-data tradisional dan data-data non tradisional, data-data non tradisional yang saya maksud itu adalah retail sales, terus kemudian penjualan mobil, penjualan motor dan juga berbagai indikator lainnya.

Lalu kalau non tradisional misalnya Google Foot Mobility Index lalu observasi secara lapangan observasi jumlah crane di beberapa kota.

Lalu kemudian melihat dari statistik penerbangan, volume penjualan di SPBU, penumpang kereta api dan lain sebagainya. Kuartal ke-3 itu memang lebih membaik dibandingkan kuartal 2, tapi tetap masih jauh dibanding kuartal 1. Artinya, perekonomian di kuartal 3 itu masih cukup dalam kontraksinya, walau tidak sedalam di kuartal 2.

Kalau berdasarkan semua data itu daya hitung, dengan korelasi-korelasi tertentu dengan teknik national income accounting yang biasa dilakukan, saya ketemu angka pertumbuhan di kuartal 3 itu -3,3% YoY. Jadi pertumbuhan ekonomi -5,3% di kuartal 2 dan 2,97% di kuartal 1, kuartal 3 ini memang sudah improve dibandingkan kuartal 2.

Nah dengan adanya disbursement program PEN di bulan September terkait dengan berbagai macam aktivitas di funding market, saya berpikir, saya melihat di kuartal 4 itu pertumbuhan ekonomi masih negatif sekitar 2%. Funding market itu pasar pembiayaan ya, baik di obligasi, pasar saham maupun di perbankan yaitu loan growth maupun deposit growth, maupun keseimbangan di antara itu semua. Jadi overall di tahun 2020 pertumbuhan ekonominya antara -1,9% ke -2,1%.

Yang kedua, kalau saya lihat dari leading economic indicator yang ada, dalam 6 bulan ke depan sejak angka terakhir  yaitu Agustus, pertumbuhan terakhir itu akan berada di bawah tren growth kita.

Nah kalau itu saya translate ke dalam angka, kemungkinan besar di  kuartal pertama di 2021 itu pertumbuhan secara YoY itu sudah positif. Tetapi kalau misalnya saya terjemahkan angka itu menjadi quarter on quarter seasonally adjusted kuartal 1 2021 masih negatif angkanya. Yang artinya kita berada di dalam zona resesi akan sampai kuartal 1 2021.

Formulasi standard dan baku yang saya pergunakan seperti ini sebetulnya memperlihatkan bahwa kita sebenarnya sudah mengalami pertumbuhan negatif secara quarter on quarter seasonally adjusted sejak kuartal ke 4 2019.

Jadi saat kuartal 1 2020, saat kita mendapatkan pertumbuhan ekonomi 2,97% YoY itu secara quarter on quarter seasonally adjusted sudah negatif.

Bagaimana sebenarnya kita menentukan kondisi perekonomian dalam resesi?

Kalau kita mau mendefinisikan sebuah zona itu resesi atau depresi, atau recovery, atau boom itu kan sebetulnya kita ingin melihat bentuk dari business cycle.

Itu kan kalau perekonomian sedang turun namanya resesi, kalau di bawah namanya depresi, kalau perekonomian naik ke atas namanya recovery, sedangkan pada waktu perekonomian di atas namanya boom. Dan itu kan bentuknya seperti kurva sinus.

Nah, business cycle ini kan adalah suatu terminologi yang kerap dipakai di bisnis terutama di sektor industri keuangan untuk menentukan fluktuasi dari perekonomian. Sekarang untuk menentukan dia sedang naik atau turun, kita harus melihat tren strukturalnya. Pada waktu kita mau melihat tren struktural, kita harus membuang elemen-elemen yang sifatnya musiman atau seasonal dan elemen yang acak.

Jadi sebuah data pertumbuhan ekonomi terdiri dari 3 komponen. Komponen struktural, komponen musiman, dan komponen acak. Komponen musiman itu misalnya musim Imlek, musim sekolah, musim libur, musim haji, musim Natal, musim panen, musim hujan. Musim-musim ini bisa menambah atau mengurangi struktur besarnya. Sementara untuk komponen acak misalnya tiba-tiba ada kerusuhan seperti demo omnibus law yang membuat kerugian karena kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan. Ada juga faktor acak yang menambah seperti Asian Games, itu kan sekali 5 tahun dan kebetulan Indonesia dapat jadi tuan rumah.

Kalau kita ingin melihat tren yang benar, kita harus membuang faktor musiman dan faktor acaknya itu. Untuk melihat struktur perekonomian kita itu seperti apa gerakannya, sehingga benar-benar ditentukan oleh produksi dan konsumsi dan keterkaitan keduanya.

Jadi kalau kita mengacu ke definisi yang baku, kita sebetulnya sudah berada dalam zona resesi di kuartal 1 2020

Nah jadi busines cycle itu harus dilihat seperti itu, menghilangkan faktor musiman dan acak. Ada teknik yang namanya seasonal adjustment. Dalam kuliah statistik sih itu dipelajari. Lalu kemudian kita melihat output sebuah kuartal dengan kuartal sebelumnya. Periode sebelumnya ya, bukan periode yang sama di tahun sebelumnya. Jadi Q2 dibandingkan Q1, Q3 dibandingkan Q2, Q4 dibandingkan Q3 bukan Q3 2020 dibandingkan Q3 2019.

Kita hanya boleh membandingkan kuartal ke kuartal kalau faktor musiman dan acaknya sudah dibuang. Jadi kita membandingkan data struktural dengan data struktural. Itu adalah terminologi dan konsep baku dalam menghitung business cycle yang di dalamnya konsep resesi.

Kalau memakai perhitungan seperti itu Indonesia sebenarnya sudah mengalami pertumbuhan -0,52% di kuartal 4 2019, kita mengalami lagi pertumbuhan negatif di kuartal 1 2020 waktu kita masih positif YoY.

Sehingga kalau dua kali berturut-turut negatif quarter on quarter seasonally adjusted, maka diklaim sebagai resesi. Jadi kalau kita mengacu ke definisi yang baku, kita sebetulnya sudah berada dalam zona resesi di kuartal 1 2020. Kuartal 2 2020 itu kita yang kedua kalinya mengalami pertumbuhan negatif. Kalau di kuartal 3 negatif lagi berarti itu kuartal yang ke 4 berturut-turut.

Saya menduga kita akan mengalami pertumbuhan negatif juga di kuartal 4 2020 dan kuartal 1 2021 dengan perhitungan quarter on quarter seasonally adjusted. Dan dugaan ini saya ambil dari leading indicator yang saya lihat.

Editor: Djumyati P.