Industri Asuransi Jiwa Masih Andalkan Reksadana dalam Berinvestasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah tren kenaikan suku bunga global, penempatan investasi di industri asuransi jiwa masih belum banyak berubah. Secara berurutan, reksadana, saham, dan Surat Utang Negara (SUN) masih menjadi yang terbesar.

Berdasarkan data OJK per Maret 2022, aset investasi industri asuransi jiwa di Indonesia nilainya sekitar Rp 521,28 triliun. Masih ada kenaikan hingga 7% jika dibandingkan periode sama tahun lalu.

Jika dilihat dari bulan sebelumnya, memang ada penambahan kontribusi untuk portofolio SUN, meskipun tidak terlalu signifikan. Dari kontribusinya sebesar 21,47% di Februari 2022 menjadi 22,7% di Maret 2022.


Sebaliknya, kontribusi saham justru mengalami penurunan, walaupun kecil. Dari sebelumnya berkontribusi sekitar 26,8% di Februari 2022 menjadi sekitar 26,3% di Maret 2022.

Baca Juga: Laba Naik, Tugu Insurance Akan Tebar Dividen Rp 126,6 Miliar

Beberapa pelaku industri pun tampaknya juga mulai mengutak-atik portofolio investasinya. Misalnya, BNI Life yang mencoba mengurangi instrumen reksadana dan lebih berinvestasi langsung ke underlying instrumennya langsung, yakni obligasi, time deposit, dan juga saham.

Meskipun, saat ini portofolio reksadana masih mendominasi portofolio investasi BNI Life sekitar 58% dari total aset yang sebagian besar merupakan reksa dana pendapatan tetap. Adapun, per April 2022 total aset investasi BNI Life sebesar Rp 20,7 triliun atau naik 7,2% yoy.

“Kami terus memonitor kondisi makro ekonomi, perubahan – perubahan yang terjadi serta dampaknya terhadap kondisi pasar,” ujar Direktur Keuangan BNI Life, Eben Eser Nainggolan kepada KONTAN, Kamis (19/5).

Menurut Eben, beberapa sentimen yang perlu diperhatikan saat ini ialah tingginya inflasi Amerika Serikat yang membuat The Fed meningkatkan Fed Fund Rate-nya secara agresif dan memicu terjadinya capital outflow.

Baca Juga: Kejagung Sita Tanah Milik Tersangka HS dalam Kasus Asuransi Jiwa Taspen

Pemain lainnya, BRI Life juga hendak melakukan perubahan pada porsi-porsi portofolio yang dimiliki. Direktur Utama BRI Life Iwan Pasila bilang hendak mengurangi penempatan pada deposito dan pasar uang.

“Kami minimalkan hanya untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek,” ujarnya.

Editor: Tendi Mahadi