Industri properti mulai bangkit, Pengamat: Kenaikan harga rumah masih normal



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Berdasarkan hasil riset Housing Finance Center (HFC) PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), harga rumah naik 5,24% secara tahunan (yoy) per Maret 2021. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan permintaan hunian di masa pandemi Covid-19.

Wakil Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Properti Dhony Rahajoe mengatakan, kenaikan harga yang terpotret dalam survei tersebut masih tergolong normal. hal tersebut seiring dengan ekosistem perumahan (properti) yang kian membaik.

Ekosistem yang dimaksud Dhony meliputi beberapa hal. Pertama, adanya aturan untuk mendorong kemudahan berusaha dan investasi di hampir semua sektor industri yang berjalan beriringan dengan berbagai insentif Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Pemerintah pun mengucurkan sejumlah insentif, seperti DP 0% dan PPN yang ditanggung pemerintah. 


"Kenaikan (yang terpotret dalam survei BTN) tergolong wajar, mengingat ada momentum gotong-royong multi stakeholders yang membuat ekosistem perumahan semakin baik," kata dia saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (26/4).

Kedua, adanya segmen potensial yang tetap tumbuh pada saat masa pandemi. Terutama yang didorong oleh sektor telekomunikasi, perbankan, perkebunan, farmasi, dan segmen ekonomi digital yang disokong oleh generasi milenial.

"Potensi 88 juta populasi milenial yang sebagian masih mencari rumah tinggal. Potensi ekonomi industri berbasis digital dikuasi milenial juga besar," sambung Dhony.

Baca Juga: Bank Commonwealth proyeksi bisnis KPR meningkat 15% pada tahun 2021

Ketiga, adanya peningkatan tabungan masyarakat untuk rentang di atas Rp 5 miliar yang pertumbuhannya mencapai Rp 373 triliun. Pertumbuhan sektor properti pun disokong dengan adanya penawaran cuci gudang dari para pengembang untuk menjaga cashflow saat kontraksi ekonomi akibat pandemi.

Dhony menegaskan, momentum perbaikan ekosistem properti perlu dijaga agar target pemulihan ekonomi nasional bisa tercapai. Mengingat sektor properti menjadi lokomotif bagi 175 industri lainnya.

Dihubungi terpisah, Director Advisory Group Coldwell Banker Commercial Indonesia Dani Indra Bhatara juga melihat, secara umum penjualan rumah sedang bertumbuh. Hal tersebut membuat pengembang percaya diri untuk menaikkan harga jualnya, terutama saat permintaan yang cukup tinggi terhadap produk yang ditawarkan.

Sebenarnya, penjualan rumah tapak sempat terganggu di awal pandemi Covid-19, khususnya pada bulan Maret-Mei 2020. Namun secara umum setelah Lebaran 2020, hampir di semua lokasi dan segmen pasar perumahan sudah mulai mengalami kenaikan.

Hampir semua segmen hunian mengalami peningkatan penjualan di semester II-2020 dan berlanjut pada kuartal I-2021. 

"Sejak pertengahan 2020 sudah terjadi proses pemulihan di perumahan, jadi kenaikan tersebut masih wajar. Tidak terlalu tinggi tapi juga tidak rendah, untuk kondisi ekonomi yang relatif belum pulih," sebut Dani.

Editor: Anna Suci Perwitasari