Ini beberapa dugaan mengapa Kim Jong Un perintahkan pembunuhan saudara tirinya



KONTAN.CO.ID - LONDON. Misteri masih menyelimuti kasus pembunuhan yang merenggut nyawa saudara tiri Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara, sejak wajahnya diolesi dengan racun saraf mematikan di bandara Kuala Lumpur.

Akan tetapi, pengungkapan fakta terbaru menunjukkan bahwa salah satu pewaris rezim Korea Utara yang terbunuh itu telah bekerja untuk badan intelijen musuh utama Pyongyang, Korea Selatan.

Melansir The Telegraph, Kim Jong Nam telah lama diyakini tidak disukai oleh rezim di dalam negeri. Dia dipaksa diasingkan setelah ditangkap dengan paspor palsu dalam perjalanan ke Disneyland di Tokyo.


Sejak kasus pembunuhan dan digelarnya sejumlah pengadilan terhadap dua wanita muda yang mengoleskan agen saraf VX ke wajahnya pada selembar kain, ada kecurigaan bahwa Kim Jong Nam memiliki koneksi ke CIA.

Baca Juga: Korea Utara rombak pejabat di jajaran militer

Saat ini, pejabat dan mantan pejabat di Badan Intelijen Nasional (NIS) Korea Selatan telah menguak tentang bagaimana Kim memberi informasi ke Korea Selatan tentang hal-hal seperti kesehatan saudara tirinya dan ambisi nuklir. Disebutkan pula bahwa dia dibayar untuk bantuannya itu.

"Kim memberi NIS informasi tentang tren di dalam pemerintahan dan kekuasaan pejabat paling tinggi rezim, termasuk Kim Jong-un, setidaknya selama lima atau enam tahun sebelum kematiannya," lapor Seoul Broadcasting System, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya seperti yang dikutip dari The Telegraph.

Mereka menambahkan bahwa Kim Jong Nam mengangkat pertanyaan tentang kemungkinan suaka di Korea Selatan, meskipun pihak Korea Selatan tampaknya berharap untuk menghindarinya dengan alasan hal tersebut akan memberikan beban yang cukup besar pada hubungan antar-Korea.

Baca Juga: Kim Jong Un: Militer kami disiapkan untuk membela diri, bukan untuk memulai perang

SBS melaporkan bahwa agen NIS melakukan kontak rutin dengan Kim Jong Nam ketika dia bepergian ke luar Makau, memantau pergerakannya dan dapat menghubunginya secara langsung melalui email. Dipahami bahwa meskipun berada di pengasingan, ia mempertahankan kontak di Utara.

SBS melaporkan, informasi yang dia berikan termasuk perincian tentang saudara tirinya, seperti kesehatan fisik pemimpin Korea Utara, rencananya untuk pengembangan senjata nuklir dan rudal jarak jauh atau kebijakan ekonomi atau militer lainnya. 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie