Ini kerugian jangka panjang beli mobil dengan insentif penghapusan PPnBM



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Adanya penghapusan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil baru, menjadi isu menarik yang tengah ramai dibahas. Terutama bagi masyarakat yang sedang berniat membeli mobil. Pasalnya, dengan penghapusan PPnBM, banderol mobil baru yang sesuai dengan kriteria pemberian insentif akan lebih murah.  

Namun demikian, perlu dicatat bila ada kerugian jangka panjang yang wajib diperhitungkan ketika membeli mobil baru kala insentif pajak berlaku di Maret 2021 mendatang. 

Halomoan Fischer, Presiden Direktur Mobil88 mengatakan, pemberian insentif pajak untuk mobil baru sebenarnya seperti dua sisi mata uang koin. Satu menguntungkan, sisi lainnya bisa merugikan. 


"Nah ini juga yang harus dicermati. Jadi seperti tahun lalu saya cerita, ketika beli mobil dengan insentif atau ada relaksasi, kemudian suatu waktu mobil tersebut akan dijual kembali, pasti akan ditawar sangat murah, bahkan bisa jatuh," ucap Fischer kepada Kompas.com, Sabtu (13/2/2021). 

Baca Juga: Perkiraan harga mobil baru Toyota Yaris, Honda Jazz jika pajak PPnBM 0 persen

Menurut Fischer, pedagang mobil bekas biasanya memiliki database dan akan melakukan pengecekan, sebelum membeli mobil milik konsumen untuk kembali dipasarkan. Ketika ada kesamaan antara waktu konsumen membeli unit dengan momen stimulus pajak dari pemerintah, otomatis penawaran yang diberikan pedagang bakal berbeda. 

"Sangat mungkin sekali harganya akan lebih murah dari mobil yang dibeli pada tahun sebelumnya (tanpa insentif). Penurunan bervariasi, tapi garis besarnya dari kondisi serta ditambah persentase pemberian relaksasinya," kata Fischer.

Baca Juga: Begini respon pelaku usaha otomotif soal insentif PPnBM mobil

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie