Ini keuntungan perusahaan konstruksi pelat merah jika SWF beroperasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah telah mengumumkan anggota direksi lembaga pengelola investasi (sovereign wealth fund/SWF) Indonesia Investment Authority (INA), Selasa (16/2). Beroperasinya SWF INA akan menguntungkan perusahaan konstruksi pelat merah. 

Setelah Presiden RI Joko Widodo mengumumkan, harga saham BUMN Karya kompak menghijau, meski pada penutupan perdagangan hari ini justru saham-saham tersebut memerah. 

Analis Sucor Sekuritas Joey Faustian berharap SWF ini dapat membantu mendanai kesenjangan antara APBN dan anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur. Ini menjadi angin segar bagi emiten konstruksi terutama BUMN Karya karena pendanaan proyek diprediksi akan semakin mudah. 


Baca Juga: IHSG diprediksi menguat, saham-saham ini bisa dilirik pada perdagangan Rabu (17/2)

SWF akan membantu menarik investor luar negeri dalam pembangunan proyek infrastruktur melalui akuisisi proyek uang sudah beroperasional atau ikut dalam konsorsium untuk membantu mendanai proyek baru.  

"Tentunya ini akan membantu mengangkat tekanan pada balance sheet para kontraktor BUMN yang sudah cukup ketat melalui divestasi aset jalan tol atau permodalan dan pembangunan proyek baru ke depannya," jelas Joey kepada Kontan, Selasa (16/2). 

Joey melihat saham yang paling diuntungkan dengan beroperasinya SWF ini adalah PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan aset jalan tol yang paling banyak. Namun secara keseluruhan sektor konstruksi akan mendapatkan sentimen positif. 

Baca Juga: Menunggu suku bunga BI, simak proyeksi pergerakan IHSG pada perdagangan Rabu (17/2)

"Tentunya yang paling diuntungkan dengan adanya SWF adalah WSKT karena WSKT yang memang paling membutuhkan cashflow dari hasil divestasi karena gearing yang sudah tinggi," jelas Joey. 

Untuk rekomendasi, Joey lebih menyukai saham PT PP Tbk (PTPP) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) karena prospek laba yang solid didukung oleh tingginya rasio nilai kontrak yang dipegang (order book) terhadap pendapatan dan gearing yang rendah. 

Editor: Adi Wikanto