Ini penyebab IMIP bisa salip INCO dan ANTM rajai produksi olahan nikel di Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mampu mengubah peta produsen nikel olahan di Indonesia hanya dalam kurun waktu 4 tahun. Sejak tahun 2018, IMIP menyalip PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang menguasai produksi nikel olahan di tanah air.

Praktisi tambang dan smelter nikel Arif S. Tiammar menganalisis faktor penyebab agresifnya IMIP dalam menggesar dominasi INCO dan ANTM dalam peta industri nikel olahan. Menurutnya, INCO dan ANTM sejatinya sudah sejak lama memiliki rencana pengembangan kapasitas produksi nikel olahan.

Hanya saja, keduanya tidak bergerak cepat dalam mengeksekusi rencananya, lantaran terhambat berbagai macam pertimbangan dan persetujuan. "Antam maupun Vale sebenarnya sudah sejak lama merencanakan pengembangan kapasitas produksi namun keputusan akhir atas eksekusi dari keduanya selalu mengalami pengunduran dengan berbagai alasan. Keduanya memerlukan waktu dan persetujuan panjang untuk memutuskan melalui jalur birokrasi," kata Arif saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (20/10).


Beda nasib dengan IMIP, disokong oleh investor dari China, yakni Tsingshan Group, keputusan yang diambil sangat cepat untuk mengeksekusi kajian dan perencanaannya. "IMIP keputusannya sangat cepat. Setelah evaluasi komprehensif dilakukan, keputusan finalnya terletak pada seorang pemegang saham terbesar yang berkuasa penuh yaitu Tsingshan Group," sambung Arif.

Selain itu, tipikal pengembangan produk nikel antara IMIP, INCO dan ANTM memang berbeda. INCO maupun ANTM sama-sama mulai berangkat dari pemain tambang hingga penghasil produk antara, seperti nikel matte dan FeroNikel (FeNi). Sedangkan Tsingshan Group sebagai pemilik saham terbesar IMIP mulai dari pemain stainless steel.

"Sebagai produser sekaligus pemasar stainlees steel, Tsigshan tahu persis peta kebutuhan nikel dan pasar di ujung. Sedangkan Antam dan Vale memakai pendekatan lain," kata Arif.

Baca Juga: Perusahaan tambang menjaga tingkatan pendanaan korporasi

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah sokongan dana. Sebab, pengembangan kapasitas smelter itu memerlukan dana sangat besar. Kata Arif, IMIP melalui Tsingshan mendapatkan sokongan dana melalui skema pinjaman sangat murah. Sedangkan INCO dan ANTM menghadapi permasalahan tidak sesederhana Tsingshan dalam hal pendanaan.

Arif memproyeksikan, peta persaingan produsen nikel dan smelter olahannya akan semakin dinamis dalam beberapa tahun ke depan. Pemainnya akan semakin beragam, apalagi didorong oleh pengembangan teknologi untuk menopang bahan baku baterai mobil listrik.

Dia bilang, teknologi yang akan digunakan juga tidak melulu berupa smelter jenis RKEF dan Blast furnace yang berbasis pirometalurgi. Tapi akan juga digunakan leaching plant (HPAL dan AL) yang berbasis hidrometalurgi. 

"Selama ini RKEF dan BF hanya mengolah bijih nikel saprolit yang berkadar tinggi. Dalam waktu dekat, tidak tertutup kemungkinan ada RKEF atau BF akan mengolah bijih nikel kadar rendah (limonit)," katanya.

Peta pergeseran pun akan mulai beralih ke  penggunaan untuk baterai ion litium (LiB) tidak lagi didominasi oleh stainless steel. Dalam waktu tidak terlalu lama, akan bermunculan para pemain LiB masuk ke industri smelter dan leaching plant. "Mereka berkepentingan untuk mencari jaminan pasokan bahan baku agar produk LiB yang dihasilkan memiliki daya saing tinggi," pungkas Arif.

Asal tahu saja, merujuk pada data yang dipaparkan Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif, pada tahun 2014, produksi nikel masih dikuasai oleh Vale dengan porsi 77%. Disusul Antam dengan 19% dan perusahaan lainnya sebanyak 3%. 

Namun, peta industri hilir nikel hingga produk setengah jadi (intermediate product) itu telah berubah dengan drastis. Pada 2018, IMIP sudah menguasai 50% dari produksi hilir nikel di Indonesia. 

Editor: Handoyo .