Ini strategi diversifikasi dan adaptasi produk ekspor TPT di tengah pandemi Covid-19



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktur Pengembangan Produk Ekspor (PPE) Kementerian Perdagangan, Olvy Andrianita, menyebut berbagai hambatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia telah teridentifikasi.

Diantaranya hampir 70% bahan baku masih impor, daya saing harga rendah, daerah produksi yang masih terpusat di pulau Jawa, belum optimalnya diversifikasi produk, mesin produksi yang sudah tua, serta kurangnya branding bagi produk TPT Indonesia.

Baca Juga: Jurus Kemendag dorong roda ekonomi berputar memasuki new normal


Tak hanya itu, Olvy menambahkan hambatan lain yang dialami komoditas TPT dunia dan Indonesia di tengah pandemi COVID-19, antara lain penurunan tingkat permintaan pada industri TPT, penurunan omzet industri TPT dunia yang mengindikasikan penurunan daya beli konsumen, pembatalan sejumlah acara besar dunia yang menjadi sarana promosi, penutupan sementara destinasi wisata dan toko ritel tekstil, karantina wilayah (lockdown), serta pelemahan ekonomi global dan di sisi lain peningkatan hambatan proteksi dari negara mitra dagang.

“Di tengah berbagai hambatan, produk TPT Indonesia juga memiliki kekuatan dan peluang. Kualitas dan eksklusivitas produk TPT asal Indonesia telah diakui banyak negara. Sedangkan, peluang ekspor yang terbuka lebar saat ini ialah alat pelindung diri (APD) dan alat kesehatan yang terbuat dari tekstil," jelas Olvy dalam siaran pers yang diterima Kontan.co.id pada Rabu (24/6).

Meski begitu, tekstil Indonesia ditekankan memiliki keunggulan secara ekslusivitas seperti batik dan tenun yang terbuat dari serat alam yaitu jerami dan alang-alang, sutra kepompong ulat daun kedondong dan pewarna alam (indigo). 

Secara kualitas pun telah diakui dunia, terutama pakaian militer, tekstil untuk bahan industri seperti jok pesawat dan kereta api, furnitur, bioskop, dan tenda, serta tekstil dengan kualitas premium untuk pakaian dalam wanita.

Baca Juga: Ini alasan DPR tambahkan NTP dan NTN ke dalam indikator asumsi makro RAPBN 2021

Saat ini, terjadi peningkatan permintaan serat organik dan pakaian muslim yang harus dilihat sebagai peluang. Selain itu, kebijakan pemerintah melalui program “Making Indonesia 4.0” juga harus dimanfaatkan.

Program ini termasuk memberikan dukungan pada peningkatan inovasi riset dan pengembangan (R & D), penguasaan mesin/peralatan modern, peningkatan desain dan mutu produk, peningkatan keahlian tenaga kerja (vokasi), serta pemenuhan sertifikasi dan standar produk TPT Indonesia.

Namun demikian, pengetatan operasional kegiatan tetap harus diterapkan, khususnya pada sektor produksi, yang mengedepankan protokol kesehatan selama masa pandemi COVID-19.

Editor: Handoyo .