Ini strategi yang disiapkan pemerintah dalam pengembangan PLTS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia masih terus didorong oleh pemerintah melalui Kementerian ESDM. PLTS diharapkan bisa menjadi salah satu pendorong utama atas pemenuhan bauran energi baru terbarukan (EBT) sebanyak 23% di tahun 2025 mendatang.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM Harris Yahya menyampaikan, tren pemanfaatan PLTS secara global menunjukkan perubahan yang drastic selama 10 tahun terakhir.

Dahulu, energi surya dianggap sebagai sumber energi yang mahal dari segi biaya pemakaian maupun pemeliharaan. Sekarang, sudah ada PLTS yang tarifnya tergolong murah hingga mencapai US$ 1,35 per kWh.


“Tarifnya lebih murah dibandingkan pembangkit energi fosil seperti batubara,” kata Harris dalam jumpa pers virtual, Rabu (16/9).

Baca Juga: Dorong energi hijau, Clime Capital lakukan investasi perdana kepada Xurya Indonesia

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pemerintah menargetkan total kapasitas penambahan EBT hingga tahun 2024 sebanyak 9.050,3 megawatt (MW).

Dari jumlah tersebut, 2.089,4 MW di antaranya berasal dari energi surya. Praktis, energi surya hanya kalah dari hydro yang berkontribusi sebesar 3.909,8 MW.

Pemerintah pun memiliki sejumlah strategi untuk meningkatkan kapasitas penggunaan energi surya di masa mendatang.

Misalnya adalah pengembangan PLTS berskala besar yang salah satunya bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB). Lembaga keuangan global ini memberi banyak masukan kepada pemerintah terkait strategi-strategi investasi PLTS.

Salah satu implementasinya adalah lelang pengadaan PLTS berskala besar. Untuk menuju lelang tersebut, pemerintah masih menunggu finalisasi Peraturan Presiden mengenai feed in tariff EBT. “Implementasinya mungkin berupa pelelangan dengan target 200 MW dulu,” imbuh Harris.

Editor: Yudho Winarto