Inilah Kondisi Ekonomi 3 Negara Asia yang Jadi Pasien IMF, Seperti Apa?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebanyak 63 negara terlilit utang tinggi di tengah gejolak ekonomi global. Adapun tiga di antaranya merupakan negara Asia Selatan yang kini menjadi 'pasien' Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF). 

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara CEO Banking Forum, Senin (9/1/2023). 

Melansir Kompas.com, IMF merupakan lembaga keuangan internasional yang menyediakan bantuan keuangan berupa pinjaman, serta memberikan masukan kepada negara anggotanya yang bermasalah. 


"Diakui di dalam statistik, lebih dari 63 negara di dunia yang dalam utangnya mendekati atau sudah tidak sustainability," ungkap Sri Mulyani. 

Bahkan, lanjutnya, berdasarkan pernyataan bank sentral India, seluruh negara Asia Selatan sudah dalam kondisi keuangan yang terlilit utang. Serta tiga negara telah menjadi pasien IMF yakni Bangladesh, Sri Lanka, dan Pakistan.

Lantas, seperti apa kondisi perekonomian tiga negara Asia yang menjadi pasien IMF? Berikut penjelasannya.

1. Bangladesh

Perekonomian Bangladesh sedang mengalami masa-masa sulit karena berbagai krisis menggigit. Inflasi yang tinggi, krisis bahan bakar, sektor perbankan yang rapuh, defisit perdagangan, dan menipisnya cadangan devisa telah melemahkan stabilitas ekonomi makro negara.

Melansir Easy Asia Forum, tingkat inflasi di Bangladesh mencapai 8,9% pada Oktober 2022. Sebagai perbandingan, tingkat inflasi negara ini hanya sebesar 5,7% pada Oktober 2021. Angka tersebut lebih tinggi dari apa yang diproyeksikan oleh pemerintah untuk tahun anggaran 2022–23 yakni sebesar  5,6%. 

Pembuat kebijakan Bangladesh menaikkan harga bensin sebesar 51,2% dan harga solar sebesar 42,5% pada Agustus 2022. Kondisi ini semakin menambah perjuangan rumah tangga berpenghasilan rendah dan tetap yang ada di negara tersebut. 

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut 3 Negara di Asia Telah Menjadi Pasien IMF

Pada 21 November 2022, Komisi Regulasi Energi Bangladesh juga menaikkan tarif listrik massal sebesar 19,9%. Kenaikan ini kemungkinan akan memperburuk krisis biaya hidup.

Sektor eksternal mengalami defisit karena kesenjangan antara pendapatan ekspor dan impor. Ekspor tumbuh sebesar 34,4%, sementara impor tumbuh sebesar 35,9% dan pengiriman uang turun sebesar 15,1% pada tahun keuangan 2021–22.

Kelemahan ekonomi tampak di sektor keuangan yang rentan dibebani dengan sejumlah besar kredit bermasalah. Per September 2022, kredit macet terdiri dari 9,3% dari total pinjaman di sektor perbankan. Budaya membiarkan bank yang mangkir bebas dari hukuman dan memberi mereka fleksibilitas tanpa akhir mendorong gagal bayar pinjaman yang disengaja.

Hal ini mengakibatkan beberapa penipuan selama dekade terakhir di mana uang deposan telah disalahgunakan, yang seharusnya menjadi pinjaman untuk bisnis. 

Baca Juga: Sepertiga Ekonomi Dunia Bakal Resesi, Indonesia Termasuk? Ini Jawaban Sri Mulyani

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie