Inilah tiga skenario posisi nilai tukar yuan saat perang dagang



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Perang dagang antara Amerika Serikat dengan China telah berlangsung kurang lebih setahun lamanya. Analis menilai, kondisi ini telah menjelma menjadi perang mata uang.

Mengingatkan saja, yuan telah terdepresiasi melampaui level 7 per dollar pada pekan lalu untuk kali pertama sejak krisis finansial global 2008. Kondisi ini yang kemudian memicu Kementerian Keuangan AS menuding China sebagai manipulator mata uang.

Baca Juga: Yuan melemah 0,08% di level 7.0395 per dolar AS (Pukul 13.42 WIB)


Dalam laporan terbarunya, Bank of America (BofA) Merrill Lynch Global Research memprediksi apa yang bakal terjadi pada yuan China dalam tiga skenario seperti yang dikutip dari CNBC.

Skenario 1: Tamparan hebat dari perang dagang, yuan anjlok 10%

BofA Merrill Lynch melihat, impor China dari AS hanya sepertiga dari impor Amerika dari China. Ini artinya, China tidak bisa menyaingi pajak impor AS dalam hal kuantitas. Meski demikian, satu hal yang Beijing dapat lakukan adalah mendevaluasi yuan sebesar 10%. Ini bisa menganulir dampak dari kenaikan pajak impor barang-barang China sebesar 10%.

Baca Juga: Perbankan Hong Kong mengeluarkan sinyal merah menyala

Skenario 2: Jika terjadi kebuntuan, posisi yuan tidak berubah

"Jika terjadi kebuntuan, nilai yuan akan bergerak flat, hanya karena Beijing akan sangat lelah telah membuah AS marah dengan pelemahan yuan atau munculnya tantangan baru yakni menghadapi para eksportir dengan membuat yuan menguat," kata bank investasi tersebut.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie