Investor Tunggu Sinyal The Fed dan Laba Emiten Penentu Arah Wall Street



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pasar saham Amerika Serikat (AS) memasuki pekan penting. Investor akan mencermati risalah rapat bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) serta laporan keuangan emiten-emiten awal untuk mencari petunjuk arah suku bunga dan prospek laba perusahaan yang akan menentukan kelanjutan reli bursa.

Perhatian utama tertuju pada risalah rapat Federal Reserve yang akan dirilis Rabu (8/7/2026).

Dokumen tersebut dinilai dapat memberikan gambaran seberapa besar peluang bank sentral kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, setelah sikap pejabat The Fed berubah lebih agresif (hawkish).


Baca Juga: Wall Street: Dow Melonjak ke Rekor Penutupan Tertinggi, Nasdaq Terseret Saham Chip

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh sebelumnya menegaskan bank sentral akan memprioritaskan pengendalian inflasi yang masih berada di atas target 2%.

Ia juga menyatakan The Fed tidak lagi akan memberikan panduan dini (forward guidance) mengenai arah kebijakan berikutnya, sehingga risalah rapat kini menjadi acuan yang semakin penting bagi pelaku pasar.

"Investor ingin mengetahui seberapa hawkish pandangan para pembuat kebijakan dan faktor apa yang akan menentukan arah suku bunga ke depan," ujar Co-Chief Investment Strategist Manulife John Hancock Investments Matthew Miskin.

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pekan ini menunjukkan perlambatan pertumbuhan lapangan kerja pada Juni. Kondisi tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Meski demikian, berdasarkan data LSEG, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September hampir berimbang dengan peluang suku bunga tetap dipertahankan.

Baca Juga: Wall Street Melemah: Investor Cemas Konflik AS-Iran dan Valuasi Saham Teknologi

Kenaikan suku bunga berpotensi menjadi tekanan bagi pasar saham karena meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan perusahaan, sekaligus membuat imbal hasil obligasi lebih menarik dibandingkan aset berisiko.

Selain kebijakan moneter, investor juga mulai mengalihkan perhatian ke musim laporan keuangan kuartal II-2026 yang akan dimulai pekan depan.