Iran Kini Targetkan Perusahaan AS Microsoft hingga Boeing, Konflik Teluk Kian Memanas



KONTAN.CO.ID - Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan akan menarget perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) di kawasan mulai 1 April sebagai balasan atas serangan terhadap Iran, demikian laporan media pemerintah.

Dalam daftar 18 perusahaan yang diancam termasuk Microsoft, Google, Apple, Intel, IBM, Tesla, dan Boeing.

"Perusahaan-perusahaan ini harus mengantisipasi kehancuran unit masing-masing sebagai balasan atas setiap aksi teror di Iran, mulai pukul 20.00 waktu Teheran, Rabu, 1 April," kata IRGC dalam pernyataannya dilansir dari Reuters Selasa (31/3/2026).


Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Selasa (31/3), Brent Melewati US$118 Akibat Konflik Iran

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan beberapa hari ke depan akan menentukan jalannya konflik.

Ia menegaskan, AS siap meningkatkan intensitas serangan jika Iran tidak membuat kesepakatan damai.

Pernyataan ini muncul beberapa jam setelah Iran membakar tanker minyak penuh muatan di lepas pantai Dubai, serangan terbaru terhadap kapal dagang di Teluk dan Selat Hormuz sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari.

Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika Tehran tidak menyetujui kesepakatan damai dan membuka kembali selat vital tersebut, jalur penting pengiriman minyak dunia yang praktis telah diblokir.

Trump menyinggung negara-negara seperti Prancis dan Inggris yang dianggap belum membantu, meminta mereka menunjukkan "keberanian tertunda" untuk mengambil alih selat dan mendapatkan minyak mereka sendiri.

Baca Juga: Unilever Gabungkan Bisnis Makanan dengan McCormick, Ciptakan Raksasa US$65 Miliar

Lonjakan Harga Minyak

Konflik yang berlangsung sebulan terakhir telah menewaskan ribuan orang, mengganggu pasokan energi, dan mengancam ekonomi global.

Harga minyak mentah sempat melonjak lagi setelah serangan terhadap tanker Al-Salmi, yang membawa sekitar 2 juta barel minyak senilai lebih dari $200 juta. Otoritas Dubai menyatakan kebakaran sudah berhasil dikendalikan, tanpa tumpahan minyak dan tanpa korban awak kapal.

Tanker tersebut membawa 1,2 juta barel minyak Arab Saudi dan 800 ribu barel minyak Kuwait menuju Qingdao, China.

IRGC menyebut target awal mereka adalah kapal kontainer yang terkait Israel, kemungkinan Haiphong Express yang berada di dekat Al-Salmi.

Baca Juga: Bagaimana Bisnis Makanan Membentuk Unilever Selama Hampir Seabad? Berikut Evolusinya