Jadi blok perdagangan terbesar dunia, apa itu RCEP? Seberapa besar pengaruh RCEP?



KONTAN.CO.ID - HANOI. Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) sudah diteken oleh 15 negara peserta pada Minggu (15/11). RCEP menjadi blok perdagangan bebas terbesar di dunia.

Apa itu RCEP? Seberapa besar blok perdagangan ini? Berapa tahun yang dibutuhkan untuk menandatangani kesepakatan? Berikut ini penjelasan lengkap yang dikutip dari Xinhua.

Apakah RCEP?


RCEP atau Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional adalah pakta perdagangan besar yang diusulkan oleh ASEAN untuk meningkatkan perdagangan di antara negara-negara anggotanya plus dengan mitra perjanjian perdagangan bebas (FTA).

Ini termasuk 10 anggota ASEAN, yaitu Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, dan lima mitra FTA blok itu yakni Australia, China, Jepang, Selandia Baru dan Korea Selatan.

RCEP ini bertujuan untuk mendobrak hambatan perdagangan dan mempromosikan investasi untuk membantu negara-negara berkembang mengejar ketinggalan dari seluruh dunia.

Baca Juga: Manfaat yang bisa didapatkan Indonesia dari kesepakatan RCEP

Seberapa besar RCEP?

15 Negara peserta RCEP menyumbang sekitar 30% dari populasi global, produk domestik bruto (PDB) global, dan 28% perdagangan global.

Berapa tahun yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan RCEP?

2012: Diluncurkan dengan tujuan memperdalam hubungan ekonomi di antara 16 negara Asia-Pasifik.

2015: Awalnya direncanakan akan selesai tetapi berulang kali melewati tenggat waktu.

2016: Enam putaran pembicaraan diadakan.

2017: KTT RCEP pertama diadakan di ibu kota Filipina, Manila.

2018: KTT RCEP kedua diadakan di Singapura.

2019: Pembicaraan dipercepat ketika 15 negara peserta RCEP menyelesaikan negosiasi berbasis teks dan semua masalah akses pasar di Bangkok, Thailand, dengan tujuan untuk menandatangani pakta mega perdagangan bebas

2020: RCEP Ditandatangani!

Baca Juga: Mendag janji RCEP tidak akan membuat Indonesia kebanjiran impor

Editor: Khomarul Hidayat