Jadi booster, ini efek samping vaksin Covid-19 Moderna yang banyak terjadi



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Vaksin Covid-19 Moderna mulai digunakan di Indonesia. Namun saat ini vaksin Covid-19 Moderna baru digunakan sebagai vaksin booster bagi tenaga kesehatan. Kenali efek samping vaksin Covid-19 Moderna yang bisa terjadi.

Kasus positif Covid-19 pada mereka yang telah mendapatkan vaksin dosis kedua masih terus trjadi. Selain itu, penyebaran COVID-19 di hampir seluruh provinsi semakin meluas. Atas dasar hal tersebut, pemerintah mencanangkan adanya vaksin Covid-19 dosis ketiga bagi para tenaga kesehatan (nakes) yang merupakan kelompok risiko tinggi.

Pemberian vaksin Covid-19 dosis ketiga bagi tenaga kesehatan juga telah mendapatkan rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional atau ITAGI. Hal tersebut berdasarkan hasil kajian yang dilakukan dan disampaikan kepada Kementerian Kesehatan pada tanggal 8 Juli 2021.


Jenis vaksin Covid-19 yang akan digunakan sebagai booster atau dosis ketiga ini adalah vaksin Moderna. Lalu apa beda vaksin Covid-19 Moderna dengan vaksin Covid-19 lainnya? Apa efek samping vaksin Covid-19 Moderna?

Sebagai informasi tambahan, Pemerintah Indonesia telah menerima hibah vaksin Covid-19 Moderna dari Covax Facility. Menurut data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) vaksin Moderna merupakan vaksin Covid-19 dengan platform mRNA dan nukleosida dimodifikasi agar dapat membentuk kekebalan tubuh terhadap virus SARS-CoV-2 sehingga dapat mencegah penyakit Covid-19.

Baca juga: Syarat vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil dan vaksin yang digunakan

Vaksin Covid-19 Moderna yang akan dipakai sebagai booster adalah mRNA-1273 dengan penyuntikan yang dilakukan secara intramuskular dengan dosis 0,5 ml sebanyak 1 dosis. Berdasarkan data dari MOderna, INC, dosis tunggal mRNA-1273 atau mRNA-1273.351 dosis 50 gram bisa diberikan sebagai booster untuk individu yang sebelumnya divaksinasi.

Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan respons titer antibodi penetralisir terhadap SARS-CoV-2 dan dua varian yang menjadi perhatian yaitu B.1.351 (pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan) dan P.1 (pertama kali diidentifikasi di Brasil).

Editor: Adi Wikanto