Jejaring AS kuat di European Super League, Amerikanisasi kompetisi bola di Eropa?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di mata para pecinta sepakbola, kompetisi merupakan adu otot dan  strategi di lapangan. Namun bagi investor atau pemilik klub sepakbola dunia terkadang kompetisi merupakan sebuah ketidakpastian dalam menjalankan bisnis yang membuat terkadang investasi para miliarder itu menjadi sia-sia di saat apa yang mereka inginkan di lapangan hijau ternyata tak sesuai dengan keinginan.   

Ketidakpastian itulah yang ingin diminimalisir oleh 12 tim top Eropa saat ngotot untuk membuat kompetisi European Super League (ESL). Dimana sistem ESL itu akan meniru kompetisi olahraga yang sudah berjalan di Amerika Serikat. Misalnya seperti Major League Soccer (MLS) yang diikuti oleh klub tanpa harus takut terlempar ke divisi bawah atau ada tim yang dari bawah tiba-tiba mencuat ke atas.

Mengutip Forbes, publik seharusnya tidak heran dengan langkah dari 12 klub itu yang memang setidaknya tiga klub lebih pemiliknya berasal dari Amerika Serikat. Pendukung dana ESL pun ternyata JP Morgan yang merupakan bank asal Amerika Serikat.


Manchester United dimiliki oleh keluarga Glazer merupakan pengusaha asal negeri Paman Sam yang juga mempunyai saham di klub NFL, Tampa Bay Buccaneers.

Lalu Liverpool yang dimiliki oleh Jhon Henry yang juga mempunyai klub bisbol Boston Red Sox. Kemudian Arsenal yang dimiliki oleh Stanley Kroenke adalah salah satu orang terkaya di dunia asal AS. Ia juga merupakan pengusaha real estat yang memiliki sejumlah klub olahraga lainnya di AS. Klub Liga Italia AC Milan yang dimiliki Elliott Grup juga berasal dari AS.

Manchester City pun yang meski dimiliki oleh pengusaha asal Uni Emirat Arab a Sheikh Mansour ternyata juga memiliki saham di klub liga AS New York City.

Melihat jejaring AS inilah yang banyak orang mengaitkan keinginan 12 klub ini untuk meniru langkah AS mengelola kompetisi. Fitur ESL ini memang strukturnya diminati oleh investor AS.

Olahraga profesional menjadi bisnis besar di Amerika Serikat dan Eropa lebih dari seratus tahun yang lalu. Namun, pada saat itu, model yang mendasari AS dan olahraga Eropa cukup berbeda signifikan.

Di AS, Liga profesional telah berkembang sebagai liga sistem tertutup di mana tim-tim dalam liga mempertahankan keanggotaan liga terlepas dari performa di lapangan. Sebaliknya, Eropa telah menggunakan model sistem terbuka di mana tim-tim dengan kinerja terkuat dipromosikan dan yang terlemah diturunkan.

Meskipun model Eropa mungkin diinginkan oleh penggemar di pasar yang lebih luas, Model di AS memiliki keuntungan bisnis yang besar bagi pemilik tim. Misalnya, kepastian untuk tetap berada di level tertinggi lalu memberikan insentif bagi tim tertentu untuk mempromosikan dan mengembangkan merek mereka.

Editor: Lamgiat Siringoringo