Jumlah pendanaan fintech lending terus meningkat setiap tahun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jumlah pendanaan fintech lending terus meningkat setiap tahun. Salah satunya investor retail yang bergabung sebagai pendana platform  PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) mencapai 100.000 hingga saat ini.

"Dengan nilai investasi mereka sekitar Rp 4 juta setiap portofolio," kata Andi Taufan Garuda Putra, Founder dan CEO Amartha, dalam keterangan resmi, Selasa (21/9). 

Bahkan, Amartha berhasil menyalurkan lebih dari Rp 4, 46 Triliun kepada lebih dari 800,000 perempuan pengusaha mikro di Indonesia. Kemudian menjadikan Amartha sebagai fintech terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah peminjam, dan tiga teratas dalam hal outstanding pinjaman. 


Berdasarkan riset internal pada Januari 2021, porsi investor ritel Amartha didominasi oleh generasi milenial, yakni sebanyak 68%, kemudian disusul 19% oleh generasi X, dan 10% oleh generasi Z. 

Baca Juga: Mencermati Aksi Merger dan Akuisisi Emiten di Bursa

Ia mengatakan, alasan milenial memilih Amartha sebagai platform investasi adalah karena Amartha membawa dampak sosial yang nyata, sehingga investasi yang diberikan juga turut membangun perekonomian masyarakat yang tidak tersentuh oleh layanan keuangan konvensional.

Tren investasi berdampak sosial akan terus berkembang, khususnya pada sektor usaha mikro yang selama ini kurang diminati oleh lembaga keuangan formal. Berdasarkan studi Angel Investor Network Indonesia (ANGIN) pada 2020 lalu.

Salah satu sektor yang menjanjikan impact investment adalah pada perempuan pelaku usaha mikro yang dinilai dapat memberikan kontribusi US$ 135 miliar pada PDB tahunan.

Keberagaman dan inklusi juga terbukti mendukung Amartha dalam memperoleh pendanaan lebih dari US$ 85,5 juta dari investor institusi seperti Women’s World Bank, Norfund dari Norwegia, dan Lendable Inc. 

Baca Juga: Perebutan pangsa pasar ketat, jumlah fintech lending di Indonesia terus berkurang

Investor institusi tersebut memercayakan Amartha sebagai mitra untuk menyalurkan permodalan bagi UMKM perempuan di Indonesia karena adanya kesamaan prinsip dalam hal keberagaman dan inklusi, yang membawa tujuan pembangunan berbasis kesetaraan gender melalui akses layanan keuangan.

Editor: Noverius Laoli