KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan di Indonesia didorong menguatkan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (Governance, Risk and Compliance/GRC) melalui pergeseran dari pendekatan tradisional berbasis pemeriksaan sesaat menuju
continuous assurance yang lebih adaptif terhadap dinamika risiko di era digital. Pendekatan tersebut disampaikan
Managing Director Risk & Sustainability BPI Danantara, Effendi Hengki, dalam pemaparan mengenai penguatan fondasi GRC di tengah meningkatnya kompleksitas dan kecepatan perubahan risiko digital. Menurut Effendi, perubahan lingkungan bisnis dan teknologi menuntut organisasi untuk tidak lagi mengandalkan pemeriksaan berbasis sampel historis atau
snapshot. “Risiko seperti kebocoran data, kecurangan finansial, perubahan konfigurasi sistem, maupun persoalan akses dapat berkembang dalam hitungan menit sehingga membutuhkan mekanisme pengawasan yang berlangsung secara berkelanjutan,” kata Effendi dalam keterangannya, Kamis (10/9).
Baca Juga: Taurus Gemilang Berinvestasi di Produsen Minuman ZOZO Continuous assurance menawarkan paradigma dengan memanfaatkan data secara lebih luas dan
real-time, validasi otomatis serta integrasi sistem. Dalam model ini, beban pengawasan tidak terkonsentrasi menjelang audit, tetapi berlangsung secara konsisten dalam aktivitas operasional sehari-hari. Effendi menekankan bahwa GRC tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai fungsi kepatuhan. GRC yang efektif dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan strategis, membantu organisasi mengambil risiko secara terukur, menjaga
downside risk, menangkap peluang, meningkatkan kualitas eksekusi, serta menciptakan nilai yang berkelanjutan. Implementasi
continuous assurance dapat dilakukan melalui dua mekanisme yang saling melengkapi, yaitu Continuous Monitoring (CM) dan Continuous Auditing (CA). Continuous Monitoring berada pada ranah manajemen dan operasional untuk mendeteksi deviasi maupun perubahan kontrol secara proaktif. Sementara itu, Continuous Auditing memberikan pengujian independen secara berkelanjutan terhadap efektivitas sistem pemantauan yang dilakukan oleh fungsi audit internal, komite audit, dan auditor eksternal. Untuk membangun fondasi tersebut, terdapat tiga pilar utama yang perlu diperhatikan, yaitu People & Culture, Process & Control, serta Technology.
Baca Juga: Hilirisasi Ragi Nusantara Membidik Pasar Ekspor Tempe Dari sisi manusia dan budaya, organisasi perlu membangun pola pikir bahwa kepatuhan merupakan bagian dari aktivitas operasional sehari-hari, sekaligus meningkatkan kompetensi audit berbasis data. Pada aspek proses dan kontrol, diperlukan
common control matrix serta penetapan ambang batas yang jelas antara otomatisasi dan intervensi manusia. Sementara dari sisi teknologi, pendekatan API-
first architecture dan
single source of truth dapat mendukung penarikan bukti secara otomatis dan penyediaan informasi mengenai kesehatan kepatuhan melalui
dashboard terintegrasi. Penerapan
continuous assurance juga dapat diwujudkan melalui alur kerja otomatis. Melalui otomasi, respons terhadap risiko dapat dilakukan lebih cepat.