Kampanye Negatif Dapat Meningkatkan Masalah Kesehatan Publik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keinginan perokok dewasa untuk beralih ke produk tembakau alternatif yang memiliki risiko lebih rendah dibanding rokok, rupanya masih terganjal oleh sejumlah hal. Salah satunya dikarenakan masih simpang siurnya informasi mengenai produk tembakau alternatif.

Wakil Direktur the Consumer Choice Center, lembaga internasional perlindungan konsumen yang berpusat di Washington DC Amerika Serikat Yael Ossowski mengatakan, simpang siurnya informasi mengenai produk tembakau alternatif tersebut lantaran masih ada kampanye yang tidak benar yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan orang untuk beralih ke produk yang lebih rendah risiko.

Contohnya, kampanye informasi publik yang menyebarkan misinformasi atas produk tembakau alternatif, pengenaan pajak tinggi, pembatasan hingga larangan penggunaannya. Intinya agar mencegah perokok dewasa memiliki akses ke produk tembakau alternatif.


“Seperti ada badan kesehatan maupun kelompok anti tembakau meyakinkan publik bahwa produk tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, dan kantong nikotin memiliki risiko yang sama atau bahkan lebih berisiko daripada rokok,” ungkap Yael, seperti dikutip dari Consumerchoicecenter.org, Selasa (1/3).

Baca Juga: Kenaikan Tarif Cukai Dinilai Memperburuk Industri Hasil Tembakau di Tanah Air

Padahal, pesan yang disampaikan tersebut tidak tepat. Upaya-upaya kampanye ini semakin intens dilakukan untuk menutupi fakta tentang produk tembakau alternatif, yang telah terbukti secara kajian ilmiah memiliki risiko yang lebih rendah hingga 95% dibandingkan rokok.

Menurut Yael, jika kampanye ini berlangsung terus-menerus, maka akan semakin memperbesar masalah kesehatan publik karena perokok dewasa enggan untuk beralih ke produk tembakau alternatif.

Dampak dari kampanye penolakan terhadap produk tembakau alternatif pun terlihat dengan meningkatnya angka penjualan rokok di Amerika Serikat pada 2020 lalu.

Editor: Yudho Winarto