Kecemasan akan virus corona merebak, harga minyak anjlok 2% lebih



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia anjlok 2% ke posisi terendah dalam tiga bulan terakhir pada transaksi Senin (27/1/2020). Data Reuters menunjukkan, harga minyak mentah Brent melorot US$ 1,37 per barel, atau 2,3%, menjadi US$ 59,32 pada pukul 1:38 p.m. EST (1838 GMT). Sedangkan harga minyak mentah AS turun US$ 1,06, atau 2,0%, menjadi US$ 53,13 per barel.

Kedua harga acuan minyak dunia ini sebelumnya telah turun lebih dari 3% dan berada di level terendah sejak Oktober.

Salah satu penyebabnya, angka kematian dari virus korona China terus bertambah sehingga menekan perjalanan dan memicu ekspektasi perlambatan permintaan minyak.


Bursa saham global, yang cenderung mengikuti minyak, juga merosot karena investor semakin cemas tentang krisis yang meluas. Alhasil, permintaan untuk aset safe-haven, seperti yen Jepang dan Treasury note melonjak tinggi.

Baca Juga: Trump tawarkan bantuan apa pun kepada China untuk kendalikan wabah virus corona

Data Reuters menunjukkan, jumlah korban dari virus corona meningkat menjadi lebih dari 80 orang dan pemerintah China memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek hingga 2 Februari mendatang. Pemerintah Negeri Panda berusaha menjaga sebanyak mungkin warga agar berada di rumah untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut. 

"Jumlah korban diprediksi masih akan terus bertambah. Itulah sebabnya pasar minyak melihat hal ini sebagai sesuatu yang sulit karena permintaan minyak bisa melorot tajam, setidaknya untuk sementara waktu," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.

Baca Juga: Wabah virus corona berpotensi menambah tekananan terhadap ekspor Indonesia

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, sekutu dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), mencoba untuk meminimalisir dampak virus corona pada hari Senin. Riyadh mengatakan OPEC dapat menanggapi setiap perubahan permintaan. 

Sumber OPEC mengatakan ada "diskusi awal" di antara OPEC + untuk perpanjangan pemotongan pasokan minyak saat ini di luar Maret, dan kemungkinan pemotongan lebih dalam juga merupakan pilihan, jika dibutuhkan dan jika penyebaran virus corona China berdampak pada permintaan minyak.

Baca Juga: Virus corona kian menyebar, Arab Saudi monitor perkembangan pasar minyak global

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie