Kejahatan siber ancam perbankan, kesadaran nasabah dan pegawai bisa kurangi risiko



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan digital yang cepat memicu peningkatan kejahatan siber di perbankan. Kementerian Komunikasi dan Informasi mencatat sekitar 5.000 laporan pengaduan tindakan penipuan (fraud)masuk setiap minggunya.

Sejak  Maret 2020 hingga saat ini, hampir 200.000 laporan fraud telah diterima, di mana media yang paling banyak digunakan adalah Whatsapp serta Instagram. Statistik ini menunjukkan Indonesia sudah dalam situasi darurat kejahatan siber.

Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha mengatakan, perkembangan kejahatan siber membawa ancaman ke dunia perbankan. Perilaku dan kesadaran nasabah serta pegawai bank menjadi hal yang penting untuk mengurangi risiko kejahatan siber di perbankan.


Terdapat masalah utama yang dihadapi oleh perbankan mulai dari aplikasi pihak ketiga di smartphone memungkinkan memiliki keamanan yang lemah jika dibuat oleh pengembang yang tidak berpengalaman.

Baca Juga: 5 Cara melindungi perangkat dari serangan ransomware

Kedua, kata dia, yaitu jaringan Wifi Publik yang merupakan salah satu cara mudah bagi peretas untuk mendapatkan akses dan data ke berbagai informasi akun yang tersimpan di smartphone.

"Ketiga, mobile malware seperti virus, trojan, rootkit dan lainnya. Ketika industry perbankan terus berkembang, begitu juga dengan malware,” ujarnya secara virtual pada Selasa (9/11).

Oleh karena itu, perbankan serta nasabah harus memahami dan mengenali apa saja bentuk penipuan digital yang marak terjadi untuk meminimalisir risiko kerugian bahkan bisa menghindarinya.

Editor: Yudho Winarto