Kejatuhan Evergrande di China Akankah Mengulang Kasus Lehman Brothers?



KONTAN.CO.ID -  WASHINGTON. Selama akhir pekan, topik mengenai lilitan utang raksasa konstruksi China, Evergrande apakah bakal mengulangi momen kejatuhan Lehman Brothers semakin santer.

Ketakutan yang berkembang bahwa kehancuran Evergrande, dan kerugian yang harus ditanggung oleh bank dan pemegang obligasi yang bernilai hingga US$ 350 miliar, dapat memicu peristiwa penularan yang serupa dengan apa yang dialami AS pada September 2008 silam, yang menyebabkan runtuhnya bank investasi Lehman Brothers.

Kewajiban keseluruhan perusahaan ini naik mendekati rekor CNY 1,97 triliun  (US$ 305 miliar), terutama karena membengkaknya tagihan kepada pemasok. Kas dan setara kas jatuh ke level terendah enam tahun.


Bloomberg menghitung, utang Evergrande menyusut menjadi CNY 572 miliar pada Juni 2021. Itu turun 20% dari CNY 717 miliar yuan pada akhir tahun lalu. Jika dibanding Maret lalu, utang sudah turun 15% dari CNY 674 miliar. Namun, utang dagang dan utang lainnya naik 15% dari enam bulan sebelumnya ke rekor CNY 951,1 miliar.

Seperti dikutip Financial Review, Senin (20/9), Evergrande, yang go public pada tahun 2009, adalah salah satu perusahaan paling penting di China. Model raksasa konstruksi adalah meminjam uang untuk membeli tanah negara, dan kemudian membangun rumah secara massal.

Baca Juga: Krisis Evergrande membuat harga Bitcoin dan aset kripto lainnya memerah

Keterkaitan pengembang properti ini ke dalam ekonomi China begitu dalam. Konstruksi perumahan telah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dan penciptaan kekayaan individu. Tapi tumpukan utang Evergrande yang sangat besar membuatnya rentan terhadap pasar properti yang lemah.

Mengutip CNN, dalam beberapa tahun terakhir, utang Evergrande menggelembung. Grup ini mendapatkan reputasi buruk karena menjadi pengembang China yang paling berutang, dengan kewajiban senilai lebih dari US$ 300 miliar.

Selama beberapa minggu terakhir, perusahaan ini mengaku memiliki masalah arus kas. Mereka mengatakan bisa gagal bayar utang jika tidak dapat mengumpulkan uang dengan cepat.

Baca Juga: Bursa Asia melemah menanti perkembangan isu tapering

Peringatan itu digarisbawahi minggu lalu, ketika Evergrande mengungkapkan dalam pengajuan bursa bahwa mereka kesulitan menemukan pembeli untuk beberapa asetnya.

Editor: Rizki Caturini