Kemenperin dan pengusaha Jepang uji coba kendaraan listrik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melanjutkan studi untuk implementasi kendaraan listrik di Indonesia. Ini merupakan kelanjutan dari MoU Kementerian Perindustrian bersama New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) asal Jepang tahun lalu.

Dalam MoU tersebut kedua negara sepakat bekerjasama dalam pengembangan kendaraan listrik. Meliput aspek consumer convenience, business model, social impact dan regulasi.

Sekedar informasi, NEDO asal jepang tersebut terdiri dari Honda Motor, Panasonic Corporation dan Pacific Consultant. Di Indonesia ketiganya kemudian membentuk usaha patungan bernama PT HPP Energy Indonesia.


Bentuk implementasinya hari ini diluncurkan lewat proyek percontohan yang dinamakan “The Demonstration Project To Increase Energy Efficiency Through Utilization Of Electric Vehicle And Mobile Battery Sharing”.

Baca Juga: Harga platinum kembali terangkat oleh permintaan yang meningkat

Direktur Jenderal Industri, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin menjelaskan dalam pilot project ini akan dilaksanakan percobaan dan studi kendaraan listrik yang akan dilaksanakan di Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Provinsi Bali.

Dirjen ILMATE menjelaskan, proyek percobaan kendaraan listrik akan dilakukan melalui skema leasing kepada konsumen langsung (skema business to consumer) serta oleh pelaku bisnis (business to business), dengan melibatkan 300 unit motor listrik (EV Bike), 1000 unit baterai, 40 unit Baterai Exchanger Station (BEx Station) dan 4 unit mobil listrik (Mikro EV).

Percobaan ini juga melibatkan Gojek dan Grab yang akan mewakili pengguna motor listrik. Keterlibatan Grab dan Gojek untuk mengakselerasi peningkatan penggunaan kendaraan listrik, karena kedua perusahaan tersebut mempunyai puluhan juta pengguna aktif dan ratusan ribu mitra pengemudi.

Baca Juga: Begini masukan MAB untuk pemerintah perihal program percepatan kendaraan listrik

“Proyek demontrasi kendaraan listrik tidak hanya bertujuan untuk mengenalkan kendaraan listrik tetapi juga untuk mendorong tumbuhnya pasar sebagai basis pengembangan industri kendaraan listrik di dalam negeri,” kata Harjanto, Rabu (28/8).

Langkah strategis ini diperkuat dengan studi tentang kendaraan listrik oleh institusi R&D Indonesia, yang terdiri dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Udayana, Universitas Indonesia dan Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Kemenperin.

Editor: Handoyo .