Kementerian ESDM: Hilirisasi batubara adalah pilihan yang tepat saat ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bakal mendorong hilirisasi batubara sebagai upaya untuk substitusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Gas (BBG).

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin menjelaskan saat ini sekitar 90% cadangan batubara didominasi batubara kalori sedang dan rendah.

"Hilirisasi adalah pilihan yang realistis untuk jaga keberlangsungan industri batubara, ini realita yang kita hadapi saat ini," kata Ridwan dalam diskusi virtual, Jumat (19/3).


Baca Juga: Asosiasi pertambangan batubara Indonesia (APBI) dukung pemanfaatan FABA

Ridwan melanjutkan sejatinya batubara masih menjadi penopang dalam penerimaan negara. Hal ini terlihat dari tingkat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor minerba pada tahun 2020 mencapai Rp 34,6 triliun atau lebih tinggi 10% dari target. Dari jumlah tersebut 85% ditopang oleh sektor batubara.

Kendati demikian, Ridwan memastikan langkah hilirisasi masih akan didorong. Sejauh ini tercatat ada dua Proyek Strategis Nasional (PSN) subsektor batubara yakni Gasifikasi Batubara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan pembangunan fasilitas coal to methanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur oleh PT Kaltim Prima Coal. Kedua proyek ini ditargetkan rampung pada tahun 2024.

Merujuk data Kementerian ESDM, nilai tambah proyek coal to DME oleh PTBA  mendorong masuknya investasi asing mencapai US$ 2,1 miliar dengan serapan batubara kalori rendah sebesar 180 juta ton selama 30 tahun umur pabrik. "Pada 2019 konsumsi LPG kita 7,64 juta ton dimana 5,73 ton dari impor senilai Rp 52,4 triliun," jelas Ridwan.

Proyek coal to DME oleh PTBA diharapkan dapat mensubstitusi impor LPG sebesar 1 juta ton per tahun. Dengan demikian, penghematan cadangan devisa yang bisa dicapai sebesar Rp 9,2 triliun per tahun.

Baca Juga: Turunkan emisi karbon, pemerintah bakal perdagangan emisi karbon pada 80 PLTU

Sementara itu untuk proyek coal to methanol oleh KPC, Ridwan mengungkapkan nilai investasi asing yang masuk mencapai US$ 2,17 miliar dengan perkiraan pemanfaatan batubara kalori rendah dan sedang mencapai 140 juta ton selama 22 tahun.

"Potensi peningkatan PDB sebesar US$ 204 miliar selama masa konstruksi 4 tahun dan produksi komersial 22 tahun," jelas Ridwan.

Editor: Tendi Mahadi