Ketegangan perang dagang berlanjut, pemerintah susun strategi penguatan ekspor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tensi perdagangan global diperkirakan belum akan berakhir dan menjadi salah satu sumber ketidakpastian terbesar dalam perekonomian dunia hingga tahun depan. 

Indonesia tak terlepas dari sentimen negatif perdagangan global yang bergulir sejak perang dagang mencuat tahun lalu. Kinerja ekspor misalnya, mengalami tekanan karena turunnya permintaan dan lemahnya harga komoditas andalan. 

Baca Juga: Pengusaha industri besi dan baja minta pengawasan impor ditingkatkan


Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekspor Indonesia sepanjang Januari-September 2019 mencapai US$ 124,17 miliar atau turun 8% dibandingkan periode sama tahun lalu. Ekspor non-migas secara kumulatif juga menurun 6,22% atau sebesar US$ 114,75 miliar. 

Kendati begitu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita masih optimistis ekspor non-migas Indonesia akan tetap tumbuh pada akhir tahun sebesar 8% atau mencapai US$ 175 miliar.

“Enam prioritas ekspor adalah produk kayu dan furnitur, makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, otomotif, elektronik, dan produk kimia,” ujar Enggar dalam acara Trade Expo Indonesia 2019, Rabu (16/10).

Di tengah tantangan perdagangan global, Enggar mengatakan, pemerintah telah menyusun sejumlah kebijakan untuk mendorong kinerja ekspor Indonesia. Di antaranya, mengubah fokus ekspor dari produk primer ke produk industri yang lebih beragam dan memiliki nilai tambah lebih besar. 

Baca Juga: Apindo sebut perjanjian IK CEPA dapat memperbesar nilai perdagangan Korea-Indonesia

Selain itu, pemerintah juga berupaya menambah perjanjian-perjanjian dagang secara bilateral dengan mitra dagang utama maupun mitra dagang potensial. Ini sebagai upaya untuk memperluas pasar ekspor Indonesia ke negara-negara non-tradisional.

Editor: Noverius Laoli