Kim Jong Un disebut pernah menertawakan Donal Trump



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Ada sebuah kisah tentang pemimpin Amerika dengan pemimpin Korea Utara yang selama ini tidak diketahui umum. Disebut-sebut, Pemimpin Korut Kim Jong Un pernah menertawakan Presiden AS Donald Trump ketika mengomentari relasi pribadi mereka.

Pernyataan itu disampaikan mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton, jelang perilisan bukunya yang membuat geram sang presiden. Dalam wawancara dengan ABC News, Bolton ditanya jurnalis Martha Raddatz apakah Trump sungguh memercayai bahwa Kim Jong Un menyukai dirinya.

Penasihat yang dipecat pada September 2019 itu menjawab, dia tidak melihat sang Pemimpin Korea Utara benar-benar serius dengan relasi itu. "Saya kira Kim Jong Un tertawa mendengarnya. Surat itu, yang ditunjukkan presiden, ditulis oleh pejabat di Partai Buruh Korut," jelas John Bolton.


Baca Juga: Terbitkan buku kontroversial, mantan penasehat sebut Trump tak tahu apa-apa

Dia menyatakan, presiden 74 tahun itu menganggap surat yang diberikan oleh Pyongyang merupakan tanda persahabatan dalam mereka. Dilansir AFP Senin (22/6/2020), Bolton menganggap Trump tidak layak menjadi Presiden AS, dan berharap dia hanya menjabat selama satu periode. "Saya berharap (sejarah) akan mengingatnya sebagai presiden satu periode yang tidak menjerumuskan negara terlalu dalam ke dalam pusaran yang bisa kita lupakan," paparnya.

Dia menuturkan pada Pilpres AS November nanti, dia tidak akan memilih baik mantan atasannya tersebut maupun rivalnya dari Demokrat, Joe Biden. Gedung Putih sudah berusaha untuk menghentikan buku itu. Tapi pada Sabtu (20/6/2020), hakim membatalkan gugatan itu karena menganggap sudah terlambat untuk menghalanginya.

Baca Juga: Diserang kiri-kanan, Trump disebut tak layak secara intelektual jadi Presiden Amerika

"Habis kesabaran"

Buku Bolton, The Room Where it Happened, berisi pengalamannya selama 17 bulan mendampingi Trump sebelum didepak pada September 2019. Dia menuturkan, "kesabarannya sudah habis" ketika melihat atasannya itu mengundang Taliban ke Camp David, dan membuatnya mantap untuk mundur.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie