Kinerja Emiten Infrastruktur Lesu di Era Suku Bunga Tinggi, Simak Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga global kembali menjadi tantangan bagi emiten sektor infrastruktur.

Tingginya biaya pendanaan berpotensi menekan beban bunga, investasi proyek baru, hingga valuasi perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap utang.

The Fed menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% pada 16 September 2026. Kenaikan tersebut juga mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter di negara lain, termasuk Indonesia.


Bank Indonesia (BI) sendiri masih mempertahankan BI-Rate di level 5,75% berdasarkan keputusan RDG 18-19 Agustus 2026.

Baca Juga: XLSMART (EXCL) Pasang Strategi Demi Hadapi Era Suku Bunga Tinggi

Dengan kondisi suku bunga global yang kembali tinggi, ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneter berpotensi menjadi lebih terbatas.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi emiten infrastruktur yang umumnya membutuhkan belanja modal besar dan memiliki eksposur terhadap pembiayaan berbasis utang.

Head External Communications PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) Henry Wijayanto mengatakan, dinamika suku bunga merupakan bagian dari kondisi makro yang perlu dikelola secara prudent.

Menurut dia, XLSMART memiliki posisi likuiditas dan arus kas yang memadai. Perseroan juga terus mengoptimalkan struktur pendanaan dan profil jatuh tempo utang.

“Di sisi operasional, realisasi sinergi merger dan network optimization juga terus memperkuat efisiensi dan cash flow perusahaan,” ujar Henry kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Untuk menjaga kinerja di tengah kondisi tersebut, EXCL akan fokus pada disiplin alokasi modal, efisiensi biaya, dan realisasi sinergi merger.

Baca Juga: IHSG Terkoreksi 0,33% ke 6.441, Top Losers LQ45: SCMA, EMTK, AMMN, Jumat (18/9)

Investasi diprioritaskan pada area yang mendukung pertumbuhan jangka panjang, termasuk penguatan kualitas jaringan dan ekspansi 5G. EXCL juga tetap menjalankan panduan bisnis 2026 yang telah disampaikan sembari memantau perkembangan kondisi makro.

Berdasarkan catatan KONTAN, EXCL sebelumnya meningkatkan panduan belanja modal (capital expenditure/capex) 2026 menjadi Rp20 triliun dari sebelumnya Rp15 triliun.

Tambahan investasi tersebut diarahkan untuk memperkuat infrastruktur jaringan, memperluas layanan 5G, serta mengoptimalkan pemanfaatan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz.

Memasuki akhir 2026 hingga 2027, EXCL melihat prospek industri telekomunikasi tetap positif seiring pertumbuhan konsumsi data dan kebutuhan konektivitas.

“Fokus EXCL ke depan adalah mengoptimalkan skala dan aset pasca-merger untuk menjadi pertumbuhan yang lebih sehat dan efisien,” kata Henry.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, sektor infrastruktur relatif sensitif terhadap kenaikan suku bunga karena banyak perusahaan di sektor tersebut membutuhkan pembiayaan utang untuk menopang operasional maupun ekspansi.

Baca Juga: Ultrajaya (ULTJ) Gelar Rights Issue Rp16,92 Triliun untuk Akuisisi Frisian Flag

Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan beban bunga, terutama bagi emiten dengan utang berbunga mengambang. Selain itu, kenaikan biaya modal membuat tingkat pengembalian proyek baru menjadi lebih sulit memenuhi target.

Wafi menilai subsektor jalan tol menjadi salah satu yang paling sensitif karena karakter bisnisnya padat modal dengan periode pengembalian investasi yang panjang.

Hal serupa juga berlaku pada subsektor menara telekomunikasi seperti PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Mitratel Tbk (MTEL) yang memiliki eksposur utang cukup besar.

Sementara itu, perusahaan telekomunikasi terintegrasi seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dinilai memiliki bantalan yang relatif lebih kuat karena ditopang arus kas operasional dan struktur utang yang lebih terkendali.

“Cara antisipasi menjaga kinerja emiten saat ini adalah refinancing ke tenor lebih panjang selagi bisa, konversi ke fixed rate, dan disiplin memprioritaskan capex ke proyek dengan IRR tertinggi,” ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menambahkan, kenaikan suku bunga tidak hanya meningkatkan beban bunga, tetapi juga dapat menekan valuasi perusahaan berbasis discounted cash flow (DCF).

Menurut dia, subsektor jalan tol menjadi yang paling merasakan dampak karena membutuhkan investasi besar untuk pembangunan ruas baru.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Tujuh Hari Beruntun, RDG BI Jadi Penentu Pekan Depan

Setelah itu, tekanan juga berpotensi dirasakan subsektor telekomunikasi yang masih membutuhkan capex untuk pengembangan 5G serta energi baru terbarukan (EBT) yang arus kasnya sensitif terhadap tingkat diskonto.

“Strategi antisipasi untuk emiten bisa diversifikasi pendanaan lewat obligasi domestik,” ujar Abida.

Wafi memperkirakan sektor infrastruktur masih menghadapi tantangan hingga 2027.