Kinerja obligasi korporasi lebih unggul daripada obligasi pemerintah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Volatilitas obligasi korporasi lebih rendah daripada obligasi pemerintah. Di tengah kondisi pasar obligasi yang cenderung tertekan kinerja obligasi korporasi berhasil lebih unggul dari obligasi pemerintah. 

Tercatat, INDOBeX Government Total Return yang menggambarkan kinerja obligasi pemerintah menurun 1,07% secara year to date (ytd) hingga Rabu (7/4). Sementara, INDOBeX Corporate Total Return yang menggambarkan kinerja obligasi korporasi tumbuh 2,28% di periode yang sama. 

Unggulnya kinerja obligasi korporasi juga dirasakan reksadana pendapatan tetap yang memegang aset ini dalam portofolionya. Berdasarkan data Infovesta Utama, reksadana Sucorinvest Stable Fund tumbuh 2,43% ytd di kuartal pertama 2021. Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata kinerja reksadana sejenis yang justru minus. 


Head of Fixed Income Sucorinvest Asset Management Dimas Yusuf mengatakan, kinerja reksadanya unggul karena fokus memegang obligasi korporasi dengan tenor 3 tahun sebagai isi portofolionya. Di tengah pasar obligasi yang cenderung tertekan, Dimas mengatakan obligasi korporasi di tenor tersebut memiliki harga yang stabil dan imbal hasil yang lebih tinggi dari tenor yang lebih pendek. 

Baca Juga: Pencarian dana di pasar modal kian ramai

Head of Fixed Income Bank BNI Fayadri mengatakan dua faktor utama yang menyebabkan kinerja obligasi korporasi saat ini lebih unggul karena tingginya kupon yang ditawarkan obligasi korporasi. Kupon tinggi tersebut merupakan kompensasi dari risiko yang relatif lebih tinggi dibanding risiko investasi pada obligasi pemerintah. 

Selain itu, volatilitas obligasi korporasi juga lebih stabil karena volume transaksi yang lebih kecil dibanding volume transaksi obligasi pemerintah. Tenor obligasi korporasi yang umumnya lebih pendek sekitar 1 tahun hingga 5 tahun juga berpengaruh pada tingkat volatilitas pergerakan kinerja. 

"Volatilitas harga obligasi korporasi saat ini relatif lebih stabil daripada obligasi pemerintah yang masih tertekan di tengah tingginya ekspektasi terhadap peningkatan angka inflasi," kata Fayadri, Rabu (7/4). 

Baca Juga: Ada 20 emisi dalam pipeline, BEI menyebut prospek penerbitan surat utang lebih baik

Editor: Wahyu T.Rahmawati