Kinerja Saham Bervaluasi Murah Berpeluang Pulih, Cermati Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan pasar saham mulai menekan saham-saham bervaluasi murah yang tergabung dalam indeks IDX Value30. Sejak awal 2026, indeks ini terkoreksi 16,93% secara year to date (YtD) hingga Kamis (8/10/2026).

Meski demikian, penurunannya masih lebih kecil dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 30,25% pada periode yang sama.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, koreksi IDX Value30 menunjukkan tekanan pasar tidak hanya menyasar saham bervaluasi tinggi, tetapi juga saham yang secara fundamental tergolong murah.


Baca Juga: Prospek Saham Kompas100 pada Agustus 2026, Ini Rekomendasi Analis

Menurut Nafan, pergerakan indeks dipengaruhi kombinasi kondisi makroekonomi, arus dana investor domestik dan asing, ekspektasi pertumbuhan laba, serta kinerja saham berkapitalisasi besar yang menjadi konstituennya.

Ketika investor cenderung menghindari risiko (risk-off), saham dengan rasio harga terhadap laba (PER) atau harga terhadap nilai buku (PBV) rendah tetap berpotensi terkoreksi karena investor lebih mengutamakan likuiditas dan keamanan.

Risiko lainnya adalah value trap, yakni kondisi ketika saham terlihat murah secara valuasi, tetapi tidak didukung pertumbuhan laba yang memadai. Meski begitu, kondisi tersebut tidak serta-merta menghilangkan daya tarik strategi investasi pada saham bernilai.

“Ini tidak berarti konsep value investing kehilangan daya tarik,” ujar Nafan, Kamis (8/10/2026).

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, tekanan terhadap saham-saham IDX Value30 lebih banyak dipicu arus dana keluar investor asing (foreign outflow), bukan perubahan valuasi atau fundamental emiten.

Baca Juga: Saham GOTO Rebound, Cermati Prospek dan Rekomendasi Analis

Dalam sebulan terakhir, aksi jual menyasar saham berkapitalisasi besar dan likuid, termasuk sektor perbankan dan komoditas yang memiliki bobot penting dalam indeks tersebut.

“Investor menjual saham yang paling likuid, bukan paling mahal,” ungkap Abida.