KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) pada Semester I-2026 menunjukkan pertumbuhan yang solid. Emiten rumah sakit ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp 6,76 triliun, tumbuh sekitar 10,8% secara tahunan atau
year on year (YoY) dari Rp 6,10 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sejalan dengan itu, laba bersih SILO juga meningkat lebih tinggi, yakni sekitar 27,9% YoY menjadi Rp 609,45 miliar dari sebelumnya Rp4 76,42 miliar. Kenaikan ini turut ditopang oleh pertumbuhan laba usaha yang mencapai Rp 869,58 miliar.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani menilai kualitas pertumbuhan kinerja SILO pada paruh pertama tahun ini tergolong baik karena tidak hanya ditopang oleh peningkatan pendapatan, tetapi juga perbaikan profitabilitas.
Baca Juga: Cek Prospek & Rekomendasi Saham Emiten LQ45 Usai Rilis Kinerja Semester I-2026 “Kalau dilihat, pertumbuhan SILO ini cukup sehat karena tidak hanya dari sisi top line, tapi juga diikuti peningkatan margin. Net margin naik dari sekitar 7,8% menjadi 9,0%, dan ini menunjukkan efisiensi operasional yang semakin baik,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (7/8/2026). Ester menjelaskan, peningkatan kinerja tersebut didorong oleh kombinasi kenaikan volume pasien, peningkatan pendapatan per pasien (
revenue intensity), serta bauran pasien yang lebih optimal.
Ia menambahkan, pertumbuhan pasien dari segmen korporasi dan swasta (private) yang lebih kuat dibandingkan pasien BPJS menjadi faktor penting dalam menopang margin. “Pasien non-BPJS ini biasanya memberikan fleksibilitas tarif yang lebih baik, sehingga berdampak positif ke profitabilitas perusahaan,” jelasnya. Memasuki Semester II-2026, Ester melihat kinerja SILO masih berpeluang melanjutkan tren pertumbuhan. Menurutnya, sektor rumah sakit cenderung defensif dan SILO masih memiliki ruang untuk meningkatkan utilisasi kapasitas yang ada.
Baca Juga: Laba Siloam Melonjak 27,9% pada Semester I-2026, Simak Rekomendasi Analis “Pertumbuhan ke depan tidak harus selalu dari ekspansi rumah sakit baru, tapi juga bisa dari peningkatan produktivitas rumah sakit yang sudah beroperasi,” katanya. Di sisi lain, ekspansi tetap berjalan dengan adanya pipeline pembangunan rumah sakit seperti BIMC Canggu dan Siloam Samarinda yang ditargetkan rampung pada kuartal III-2026. “Penambahan kapasitas ini tentu positif untuk jangka menengah, walaupun di awal biasanya ada biaya ramp-up sebelum utilisasinya optimal,” imbuhnya. Lebih lanjut, Ester menilai pengembangan layanan dengan kompleksitas tinggi menjadi katalis penting bagi SILO.