Kredit Konsumsi Perbankan Masih Melambat, Daya Beli Belum Pulih Secara Merata



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan kredit konsumsi sepanjang 2025 menunjukkan pola yang mirip masa pandemi. Pergerakan tiap segmen tak seragam, mencerminkan pemulihan daya beli masyarakat yang belum merata.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat, pada Desember 2025 kredit konsumsi hanya tumbuh 6,4% secara tahunan (yoy), melambat dibandingkan 10,5% yoy pada tahun sebelumnya. Pelemahan ini terutama dipicu koreksi pada kredit kendaraan bermotor (KKB) yang turun 6,6% yoy.

Dua segmen lain masih tumbuh, tetapi melambat. Kredit pemilikan rumah (KPR) hanya naik 6,8% yoy, sementara kredit multiguna tumbuh 7,7% yoy.


Pola serupa pernah terjadi pada 2020 saat pandemi. Kala itu, KKB anjlok 25,5% yoy dan menjadi penekan utama kredit konsumsi. Meski KPR dan kredit multiguna masih tumbuh masing-masing 3,6% yoy dan 1,2% yoy, total kredit konsumsi tetap terkontraksi 1% yoy.

Baca Juga: Kredit Konsumsi Perbankan Masih Tumbuh Terbatas hingga Agustus 2025

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional sekaligus Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Hery Gunardi, menilai tren kredit mencerminkan ketahanan daya beli debitur yang belum merata. 

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tahun lalu lebih banyak ditopang kelompok kelas atas, sementara daya beli masyarakat menengah ke bawah masih tertahan sejak 2019.

“Ruang konsumsi masyarakat menengah dan bawah masih terbatas. Sebaliknya, kelas atas relatif lebih stabil. Ini menjelaskan mengapa segmen premium seperti kredit properti lebih resilien,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).

Ia menambahkan, pemulihan likuiditas rumah tangga memang mulai terjadi, namun terkonsentrasi pada nasabah dengan saldo tinggi. Di segmen menengah dan bawah, pertumbuhannya cenderung stagnan, kondisi yang tercermin pada kinerja kredit.

Pengamat perbankan Moch Amin Nurdin menilai lesunya daya beli kelas menengah ke bawah, basis utama pembeli kendaraan roda dua dan kendaraan entry level menjadi penyebab utama koreksi KKB. 

Baca Juga: Kredit Konsumer Melambat Lagi, Daya Beli Belum Pulih?

Pada saat yang sama, tekanan ekonomi justru mendorong kredit multiguna karena sering dimanfaatkan untuk refinancing atau menjaga arus kas rumah tangga.

“Pertumbuhannya bisa meningkat ketika tekanan ekonomi moderat terjadi,” katanya, Minggu (22/2/2026).

Amin memproyeksikan kredit konsumsi berpeluang membaik pada 2026, meski pemulihannya belum seragam. 

KPR diperkirakan tetap menjadi mesin pertumbuhan, KKB sangat bergantung pada penurunan suku bunga dan perbaikan daya beli, sementara kredit multiguna mengikuti kebutuhan likuiditas rumah tangga.