Kuartal I, laba sejumlah emiten multifinance masih tertekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beberapa emiten multifinance yang telah melaporkan kinerja tiga bulanan pertamanya  terlihat masih mengalami penurunan kinerja terutama dalam hal laba. 

Kondisi pandemi covid-19 yang mulai membaik di kuartal pertama ini ternyata belum membantu mengangkat kinerja kembali seperti sebelum pandemi. Selain itu, adanya stimulus yang diberikan pun juga masih belum memberi pengaruh yang signifikan.

Berdasarkan data OJK, laba bersih perusahaan multifinance masih turun sebesar 23,5% yoy pada kuartal I-2021. Hal tersebut berarti laba yang dibukukan hanya senilai Rp 3,2 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,2 triliun.


Baca Juga: Meski biaya pencadangan meningkat, CAR Bank Mandiri masih kuat di level 18,51%

Salah satu emiten multifinance yang labanya masih terkoreksi ialah PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance). Perusahaan mencatat hanya mendapatkan laba sebesar Rp 230 miliar yang berarti turun hingga 30% yoy. Penurunan tersebut dianggap wajar karena pada periode yang sama di tahun lalu pandemi masih belum sebesar sekarang.

Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, BFI Finance masih bisa membuahkan laba positif yang meningkat 26,8% qoq. Kenaikan laba tersebut ditopang dengan peningkatan pembiayaan baru perusahaan yang tumbuh 35,3% qoq menjadi Rp 2,93 triliun.

Saat ini, BFI Finance memang sudah membuka semua lini produk pembiayaannya. Hanya saja dikarenakan perekonomian yang masih belum stabil, perusahaan masih menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menjaga peningkatan NPF yang saat ini sudah berada di level 2,3%.

“Titik jenuh masyarakat untuk melawan dan bangkit dengan pola hidup yang baru semakin besar. Namun demikian, perhitungan terhadap semua risiko tetap kami lakukan secara cermat untuk menjaga kinerja Perusahaan yang sehat,” ujar Direktur Keuangan BFI Sudjono.

Baca Juga: Hingga April 2021, restrukturisasi pembiayaan multifinance mencapai Rp 173,04 triliun

Porsi pembiayaan di BFI Finance paling besar adalah pembiayaan mobil bekas sebesar 72,1% dengan  disusul oleh alat berat dan mesin sebesar 13,9%. Untuk pembiayaan motor bekas, perusahaan mencatat porsi 9,1%.

Lalu ada  pembiayaan mobil baru sebesar 1,9%. Dilanjutkan pembiayaan agunan properti dan lainnya menyumbangkan 3% dari total piutang pembiayaan dikelola senilai Rp13,6 triliun.

“Di kuartal II dan seterusnya nanti, kinerja baik ini akan terus kami pertahankan dan tingkatkan. Kami optimis pertumbuhan labanya lebih bagus dari tahun lalu,” tambah Sudjono saat dihubungi Kontan.co.id.

Editor: Tendi Mahadi