Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru Wariskan Harta Melimpah untuk Jawa Timur



KONTAN.CO.ID - BOJONEGORO. Selain membucahkan gas yang melimpah, Proyek Strategis Nasional (PSN) Jambaran Tiung Biru (JTB) juga mengalirkan berkah bagi Pemerintah maupun masyarakat yang hidup di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Kehadiran PT Pertamina EP Cepu (PEPC) selaku operator di lapangan gas ini semakin memperkuat fondasi ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan di sekitar wilayah kerjanya.

Kabupaten Bojonegoro disebut-sebut menyimpan kekayaan sumber daya alam minyak dan gas bumi yang besar dan akan mengantarkannya sebagai kabupaten terkaya se-Indonesia.


Kepala Unit Percepatan Proyek Jambaran Tiung Biru SKK Migas, Waras Budi Santosa  mengemukakan, proyek ini berdiri di satu kabupaten terkaya di Indonesia karena dari dana bagi hasil maupun dari kegiatan hulu migas berkontribusi sangat signifikan ke Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Apalagi saat ini Proyek Jambaran Tiung Biru sudah berjalan dan diharapkan menjadi salah satu penghasil gas terbesar di Jawa Timur bahkan se-Indonesia. Maklum saja, proyek ini  dirancang untuk mengolah produksi 330 Juta Standar Kaki Kubik per Hari/Million Standard Cubic Feet per Day (mmscfd) gas input dengan kapasitas produksi penjualan  gas sebesar 192 mmscfd.

Baca Juga: Tekan Emisi Karbon, Pertamina EP Cepu dan SKK Migas Tanam 3.000 Pohon Tegakan

Adapun umur produksi kapasitas penuh atau plato JTB masih tahan hingga 2035. Artinya, performa semburan gas JTB tetap maksimal sampai 13 tahun ke depan.

Area proyek ini berada di empat lokasi yakni di Kecamatan Gayam, Ngasem, Tambakrejo, dan Purwosari di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

“Saya melihat lapangan gas ini berpotensi menjadi sentra (hub) pengembangan lapangan gas dari daerah-daerah lain karena masih memiliki lahan kosong yang luas,” jelasnya saat ditemui di Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru, Rabu (26/10).

Per Agustus 2022, JTB telah melaksanakan gas in yang merupakan tahap awal pembuktian bahwa peralatan dan instalasi terintegrasi dengan baik.

Setelah gas in berjalan lancar, tahap berikutnya adalah gas on stream yang saat ini sudah mencapai 30 mmscfd dan diharapkan November ini dapat mencapai 60 mmscfd hingga 70 mmscfd. Berikutnya di Desember 2022 ditargetkan gas on stream dapat berjalan hingga 100% atau mencapai 192 mmscfd.

Dari 192 mmscfd gas yang diproduksi di JTB, sebanyak 100 mmscfd sudah mendapatkan perjanjian jual beli gas (PJBG) ke PT PLN dan 72 mmscfd ke industri lainnya di Jawa Timur. Sisanya sebanyak sebanyak 20 mmscfd belum teralokasikan pembelinya.

Rencananya 20 mmscfd gas tersebut akan dialokasikan untuk pabrik Pupuk Kimia Gresik dan masih dalam tahap persetujuan dari Kementerian ESDM.

Waras menjelaskan, selama ini Jawa Timur mengalami kekurangan (shortage) gas. Namun di 2023 kemungkinan besar akan mengalami kelebihan (surplus) gas.

“Nah ini menjadi pekerjaan kami dan Kementerian ESDM bagaimana untuk mengoptimalisasi pemanfaatan gas,” jelasnya.  

Baca Juga: Proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) Alirkan Gas Perdana

Editor: Yudho Winarto