Likuiditas bank daerah masih longgar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bagi bank-bank daerah, kondisi likuiditas bukan merupakan isu seperti halnya yang dirasakan bank-bank umum lainnya. Ruang bagi sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD) dalam menyalurkan kredit masih cukup besar. Fokus utama untuk menggenjot penyaluran pinjaman.

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) misalnya mencatatkan rasio kredit terhadap pendanaan atau loan to funding ratio (LFR) di level 62,74% per Mei 2019. Ini mengindikasikan kondisi likuiditas perseroan saat ini masih cukup longgar.

Meskipun masih cukup longgar, Direktur Keuangan Bank Jatim Ferdian Timur Satyagraha mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan dan pemeliharaan harian guna menjaga likuditas sesuai dengan batasan yang ditetapkan regulator.


"Rencana pendanaan diluar dana pihak ketiga (DPK) masih menjadi opsi strategi menjaga likuiditas." kata Ferdian pada Kontan.co.id baru-baru ini.

Namun, dia tidak menyebutkan skema pendanaan apa yang akan dilakukan perseroan ke depan. Hanya saja, pendanaan itu akan dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kebijakan-kebijakan eksternal yang mengiringi terutama yang berpengaruh terhadap cash outflow DPK.

Sementara itu, Ferdian optimistis penyaluran kredit perseroan akan semakin membaik. Kuartal II, kredit diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dari periode kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh 7,27%.

Senada, PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Bank Sumsel Babel/BSB) mengaku masih memiliki ruang besar dalam melakukan ekspansi kredit. Loan to deposit ratio (LDR) perseroan per Maret 2019 ada di level 72,97% dan per Mei tercatat 75,04%.

Guna menjaga likuiditas terjaga di level yang aman, Direktur Pemasaran Bank Sumsel Babel, Antonius Prabowo Argo bilang, pihaknya melakukan strategi peningkatan dana murah serta mengoptimalkan fungsi alco sehingga perseroan dapat merumuskan kebijakan pricing secara tepat dan dapat menyalurkan kredit pada segmen yang menguntungkan.

BSB memperkirakan penyaluran kredit di triwulan kedua tahun ini tumbuh sesuai dengan target perseroan yakni dua digit. Adapun DPK diperkirakan akan mencapai Rp 20,3 triliun dan penyaluran kredit mencapai Rp 14,95 triliun.

Editor: Yudho Winarto