Mantan Dirut BRI Asmawi Syam beberkan kisahnya saat menjadi seorang bankir



KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Mantan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Asmawi Syam, membeberkan kisahnya menghadapi berbagai masalah saat menjadi seorang bankir.

Cerita itu dia bagikan dalam sebuah buku hasil kolaborasinya dengan akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali berjudul "Leadership in Practice: Apa Kata Asmawi Syam".

Dalam launchingnya pada Selasa, (8/10) Asmawi sedikit membeberkan gaya kepemimpinannya yang mungkin bisa ditiru profesional masa kini. Asmawi bercerita, dirinya pernah menghadapi pilihan paling berat dalam hidup di tengah-tengah karirnya selama 37 tahun.


Asmawi, yang saat itu merupakan kepala cabang Bank BRI di Pulau Seram, Maluku Tengah diminta tes ke kantor pusat BRI di Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya ke AS. Kendati demikian, tawaran lainnya muncul. Dia diminta menjadi kepala cabang di daerah Singaparna, Tasikmalaya. 

Baca Juga: Perjalanan Sunarso menjadi orang nomor satu di BRI  

Saat itu, cabang Bank BRI di Singaparna tengah bermasalah karena seorang nasabah yang sedikit "keras". Kepala cabang sebelumnya tidak bisa menghadapi nasabah tersebut. Tak disangka, dia mengambil tawaran itu ketimbang sekolah di AS.

"Mungkin itu yang paling berat bagi saya saat dihadapkan pada dua pilihan. Rata-rata orang akan memilih luxury-nya, lanjut S2 ke AS. Saya harus memilih mendapat luxury atau mendapat masalah (kepala cabang di Singaparna), saya kemudian pilih Singaparna," kata Asmawi Syam di Jakarta, Selasa (8/10).  

Menjadi Singa

Menjadi Kepala Cabang di Singaparna, membuatnya mesti menjadi "singa" saat menyelesaikan permasalahan kredit. Dia pun diberi fasilitas rumah dilengkapi bodyguard mengingat nasabah yang dihadapinya memang sulit. Kasus yang begitu rumit dan panjang tersebut akhirnya bisa dia selesaikan dalam waktu 10 bulan.

"Sementara Dirut BRI saat itu berpikir saya bisa menyelesaikannya dalam waktu yang wajar, yakni 2 tahun. Saya merasa ini momen paling tepat yang saya ambil sehingga dikenal jajaran direksi. Kalau saya ke AS, mungkin saya enggak menguasai ilmu lapangan ini," kata Asmawi.

Selain momen mendebarkan dan penuh tantangan, Asmawi juga menceritakan momen unik di kantornya. Dia pernah mendatangi kantor cabang pukul 01.00 malam, yang menjadikannya target pukul satpam.

Beberapa waktu setelahnya, satpam tersebut mengajukan surat pengunduran diri, mengingat dia sudah meninggalkan tugas menjaga pada malam itu, dan memukul atasan.

Editor: Yudho Winarto