Manulife: Aksi para pemburu yield menguntungkan Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam ulasan dan proyeksi kondisi pasar global dan domestik, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai, isu global yield hunt atau pemburuan yield global akan menjadi isu utama yang menguntungkan negara berkembang. Pasalnya, emerging market akan menerima inflow dari investor yang memburu imbal hasil menarik. 

Nah, Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapatkan keuntungan ini. Sebab, real yied pasar obligasi Indonesia terbilang tinggi. 

Baca Juga: Manulife: Menyambut era suku bunga rendah, IHSG bisa ke 6.800


Menurut Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income MAMI, daya tarik pasar saham dan obligasi Indonesia semakin meningkat saat ini. "Penurunan suku bunga yang disertai dengan kenaikan peringkat utang Indonesia yang konsisten dalam dua tahun terakhir membuat Indonesia menjadi destinasi investasi yang menarik, khususnya bagi pasar obligasi," paparnya, Selasa (20/8). 

Jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, lanjut Ezra, Indonesia menawarkan real yield pasar obligasi yang cukup tinggi. MAMI memperkirakan, hingga akhir tahun 2019, yield obligasi pemerintah Indonesia untuk tenor 10 tahun akan berada di kisaran 6,5% - 7,0%.

Baca Juga: IHSG melemah, 10 saham ini mencetak volume perdagangan terbesar, Kamis (1/8)

Data yang dihimpun MAMI menunjukkan, real yield Indonesia saat ini berada di posisi 4%. Sementara, Malaysia berada di level 3,4%, India 3,2%, Filipina 2,07%, Thailand 1,08%, Brazil 1,04%, dan China 0,46%. Bahkan Turki dan Mexico menawarkan real yield negatif yakni dengan besaran masing-masing 0,08% dan 0,32%. 

Selain itu, ada sejumlah sentimen lain yang membuat outlook pasar obligasi Indonesia tahun ini terbilang cerah. Pertama, dengan inflasi rendah dan untuk menopang pertumbuhan ekonomi, MAMI memprediksi Bank Indonesia akan melanjutkan pemangkasan suku bunga acuannya. 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie